Senin, 05 Desember 2011

SARIDIN DALAM PENGUMULAN ISLAM DAN TRADISI: Relevansi Islamisme Saridin Bagi Pendidikan Karakter Masyarakat Pesisir



SARIDIN DALAM PENGUMULAN ISLAM DAN TRADISI: 

Relevansi Islamisme Saridin Bagi Pendidikan Karakter Masyarakat Pesisir

Nur Said *

ABSTRACT

“Di zamannya, orang desa sekitar pun tak ada yang tahu persis siapa Saridin. Orang tahunya Saridin ya Saridin, orang desa yang juga tak tersentuh pendidikan, dan namanya bahkan tercoreng tindak “kejahatan” yang pernah dilakukannya. Ia diuber-uber prajurit Kadipaten Pati, dan entah bagaimana, ia lenyap begitu saja. Orang pun lupa kisah Saridin. Puluhan tahun kemudian muncul "pesantren" baru yang mengguncangkan kemapanan pesantren-pesantren lain yang sudah dirintis lama sebelumnya. Para santri dari pesantren-pesantren lain pindah ke pesantren baru tersebut. Para tokoh dunia Islam, termasuk Sunan Kudus, risau. Mereka kemudian mendengar, pesantren baru itu diasuh oleh Syech Jangkung. "Syech Jangkung? Siapa dia? Dan dari mana?" Banyak pihak gugup menghadapi kenyataan itu. Maka, Sunan Kudus mengutus seorang mantan santri kepercayaannya, yang sudah memangku jabatan Ketib, untuk menelusuri jejak Syech Jangkung. Sang Ketib menemukan, tokoh yang mengaku Syech Jangkung itu tak lain ternyata cuma si Saridin.” (Muhamad Sobary, KOMPAS,  29 Desember 2002).



Pendahuluan



1. Latar Belakang Masalah

Saridin adalah nama kecil dari Syekh Jangkung yang sekarang makamnya terletak di Desa Landoh, Kecamatan Kayen sejauh lebih kurang 17 Km dari Kota Pati. Saridin menjadi representasi dari tokoh rakyat yang berani memperjuangkan kebenaran bahkan melawan ketidakadilan secara lugu tanpa kekerasan dalam berhadapan dengan siapapun termasuk pihak penguasa Kadipaten Pati bahkan dengan Sunan Kudus pada masanya.

Kepopuleran Saridin dalam masyarakat bawah (grass root) bukan saja karena berbagai keanehan sikap dan perilakunya di zaman kuwalen (walisongo) terutama ketika bergumul dan berinteraksi dengan Sunan Kudus tetapi dia juga meninggalkan berbagai ajaran yang masih melekat dalam masyarakat lokal di Pati. Diantara ucapan Saridin  adalah “Ojo njupuk nek ora dikongkon, ojo njaluk nek ora dowek’i” (Jangan mengambil sesuatu, kalau tidak mendapatkan ijin yang memiliki, jangan meminta kalau bukan miliknya).1  Sebuah ajaran yang mengedepankan keikhlasan, kejujuran dan kemandirian.

Yang tak kalah menarik laku-lampah (perilaku) Saridin yang kocak dan penuh digdaya sudah banyak direproduksi dalam berbagai cerita dalam Ketoprak,2 sebuah seni pertunjukan yang populer di Pati. Bahkan lakon Saridin dalam Ketoprak tersebut tak sedikit yang sudah masuk dapur rekaman, sehingga masyarakat umum sudah bebas menikmasti seni Ketoprak berikut cerita Saridin dengan berbagai tafsir yang bermacam-macam.

Cerita dan legenda Saridin tak sekedar sebagai hiburan tetapi telah menjadi  semacam ideologi pencitraan yang berkembang liar di masyarakat sehingga ketika berkontestasi dalam suatu medan pertarungan tanda (sign) budaya, hal ini turut mengkonstruksi sistem keyakinan dan sistem nilai dalam masyarakat dan sekaligus menjadi sumber penggerak dalam berpikir dan bertindak.

Sumber penggerak tindakan dan pemikiran seperti ini oleh Bourdieu disebut sebagai habitus; yaitu kerangka penafsiran untuk memahami dan menilai realitas sekaligus sebagai penghasil praktek-praktek kehidupan dalam suatu dialektika dua gerak timbal balik; pertama, struktur obyektif yang dibatinkan; kedua, gerak subyektif yang menyingkap hasil pembatinan.3 Dalam keberagamaan hal ini termanifestasikan dalam berbagai bentuk ‘Agama Rakyat’, terutama pada Islam yang  ‘membumi’ yang terkonstruksi sebagai bentuk dialektika antara Islam dan tradisi lokal.

Maka ketika Saridin ada “perselisihan” dengan Sunan Kudus dalam sebuah cerita sebagaimana dalam kutipan pembuka bagian ini, sebagian ada yang menilai hal itu sebagai bentuk perbedaan pandangan antara Islam Sufistik-populis yang merakyat sebagai representasi Saridin dengan Islam Sufistik-Politis dengan Sunan Kudus sebagai figurnya.4

Demikian juga berbagai bentuk ungkapan Saridin seperti; aja drengki srei, tukar padu, dahpen kemeren, aja kutil jumput, bedhog-colong (Jangan saling benci, jangan suka bertengkar, jangan iri. Jangan suka mengambil milik orang lain tanpa seizin pemiliknya) yang sering terilustrasi dalam lakon Ketoprak Syekh Jangkung juga merupakan bagian dari tradisi lisan yang amat populer di kalangan orang Komunitas Sedulur Sikep Bombongan,  Baturejo, Sukolilo, Pati.5 Kini Komunitas  Sedulur Sikep di Bombongan tersebut merupakan sebuah komunitas adat yang memiliki sistem keyakinan dan budaya yang kuat bahkan memiliki mekanisme perlawanan terhadap hegemoni penguasa dengan tanpa kekerasan.6 Apa yang yang diyakini oleh Komunitas Sedulur Sikep adalah bagian dari ‘agama rakyat’ yang lahir dan berkembang secara natural pada masyarakat bawah, bukan sebagai agama yang dikonstruksi oleh hegemoni penguasa.

Karena itu, eksistensi Saridin dengan segala pencitraan yang ada, telah turut mengkonstruksi kesadaran masyarakat bahkan pada kelompok tertentu turut mengkonstitusi pola keyakinan dan sistem nilai sehingga terwujud dalam “Agama Rakyat”7  yang dalam Islam memberikan identitas keislaman yang khas, sementara dalam bentuk agama lokal muncul Sedulur Sikep di Sukolilo Pati.

Berdasarkan pemikiran tersebut menjadi menarik mengurai penelitian yang lebih mengakar tentang eksistensi Saridin dalam bergumul dengan Islam dan tradisi sebagai ikhtiar mengaktualkan nilai-nilai budaya lokal terutama yang dipegangi oleh Saridin dengan segala kontroversinya. Tak hanya berhenti pada tahap penggalian nilai-nilai, tetapi mencoba memetakan sejauhmana relefansinya bagi pendidikan karakter dalam masyarakat pesisir dalam konteks kekinian.



2. Rumusan Masalah

Dengan mendasarkan pada latar dasar pemikiran di atas, maka rumusan masalah kajian ini adalah sebagai berikut: (1) Mengapa figur Saridin begitu melegenda dalam masyarakat pesisir Jawa?; (2) Bagaimana citra Saridin diillustrasikan  dalam tradisi lisan dan tradisi tulis dan bagaimana hal tersebut direproduksi oleh berbagai elemen masyararakat di pesisir Jawa?; (3) Bagaimana citra Saridin dalam bergumul dengan Islam dan tradisi dan bagaimana hal tersebut mengkonstruksi ‘Agama Rakyat’ di pesisir Jawa?; (4) Apa relefansi ajaran Saridin bagi pendidikan karakter masyarakat pesisir dalam konteks sekarang?



3. Metodologi Penulisan

Paper ini ditulis berdasarkan hasil riset intensif yang sarat dengan pengungkapan makna simbolik dan membaca hubungan antar sistem tanda (signs) budaya dalam bingkai menangkap suatu konstruksi fenomena ‘Agama Rakyat’, maka dalam prosesnya akan mengedepankan 3 (tiga) pendekatan sekaligus; Pertama, pendekatan semiotik sebagai salah satu pendekatan sosiologi modern;  yang berasumsi bahwa culture as a semiotic phenomenon...the laws of signification are the laws of culture. For this reason culture allows a continuous process of communicative exchanges.8 Hal ini menunjukkan bahwa setiap entitas budaya dapat menjadi fenomena tanda, sehingga hukum hubungan antar tanda juga berlaku dalam mencermati pranata budaya.  Kedua, pendekatan sejarah lisan (oral history); strategi penggalian mutiara kultur leluhur yang hampir terlupakan oleh banyak orang. Tradisi tersebut tetap ada lestari, hidup dan berkembang tanpa paksaan yang setiap muatan gagasan tersebut diekpresikan secara turun temurun melalui lisan (tutur tinular). Menurut Tol dan Pudentia sebagaimana dikutip oleh Suwardi Endraswara, tradisi lesan tidak hanya berisi folklor, legenda dan mitos, tetapi juga terdapat sistem pengetahuan masyarakat adat, praktek hukum, pengobatan tradisional dan lainnya.9 Pendekatan sejarah lisan ini terutama dalam melacak fenomena legenda Saridin di Pati serta pencitraannya hingga sekarang. Ketiga, pendekatan interpretatif, yang memperlakukan kebudayaan sebagai sistem pemaknaan. Anggapan dasar pendekatan ini, kebudayaan dianggap sistem simbol dan sekaligus sebagai jejaring makna, sehingga pola-pola

makna terejawantahkan melalui simbol-simbol.10 Dengan melanjutkan analogi itu, maka fenomena kebudayaan juga merupakan fenomena tanda yang bermakna yang dapat didekati melalui dua sisi; sebagai sistem tanda (system of signs) dan sekaligus sebagai praktik-praktik penandaan (signifying practices) .11 Maka berbagai peninggalan Saridin yang ada tak sekedar dimaknai secara denotatif, tetapi justru menangkap makna dibalik yang lahir (konotif)

Kajian ini dilakukan berdasarkan riset dalam masyarakat pesisisr Jawa terutama di Kabupaten Pati dimana Saridin dimakamkan.  Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan metode pengamatan terlibat (participant observation), wawancara mendalam (indepth interviews) dan studi dokumentasi.  Ketiga metode tersebut dioperasionalisasikan menurut sifat data yang ingin diperoleh. Untuk mendapatkan data yang bersifat kongrit peneliti menggunakan pengamatan terlibat seperti berbagai peninggalan benda cagar budaya komplek makam Saridin di Landoh, Kayen.  Sementara data yang bersifat abstrak seperti nilai, makna simbol, pandangan hidup, cerita rakyat dan legenda, sejarah lisan dalam penggaliannya menggunakan metode wawancara mendalam terutama untuk menangkap sejarah lisan di masyarakat Pati. Data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara tersebut kemudian diperkaya dengan data dari dokumentas baik berupa buku, majalah, berita koran, foto/gambar, internet, rekaman kaset dan film dokumenter.

Setelah data terkumpul selanjutnya dilakukan pengolahan data secara kualitatif melalui tahapan seleksi, klasifikasi, dan kategorisasi berdasarkan kelompok masalah, kemudian dilakukan analisa semiotik dengan  mencari hubungan antar sistem tanda dalam legenda Saridin dengan fenomena budaya lokal terutama terkait  dengan geneologi ‘Agama Rakyat’ di Pati. Sistem tanda dapat menghasilkan makna karena adanya prinsip perbedaan (difference) atau sistem hubungan tanda-tanda. Karena itu dalam analisa semiotik, sistem hubungan ini mendapatkan tempat yang amat penting. Tugas analisa semiotik adalah merekonstruksi sistem hubungan yang secara kasat mata tidak tampak,12 baik hubungan simbolik, paradigmatik maupun sintagmatik. Analisa ini diperlukan untuk membantu menangkap habitus masyarakat agama di Pati sehingga konstruksi budaya masyarakat Pati dalam beragama dan bertindak –setidaknya dengan bantuan teori praktiknya Pierre Bourdieu- akan bisa terformulasikan dan terbaca secara jelas dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.



Pembahasan



1. Geneologi dan Kiprah Saridin dalam Masyarakat Pesisir

Saridin meskipun telah melegenda dalam masyarakat pesisir utara terutama di Pati dan sekitarnya, namun keberadaanya dan kesejatiannya dirinya masih merupakan misteri. Sosok Saridin sejak zaman Walisongo telah membuat heboh para santri di pondokan Kanjeng Sunan Kudus karena kenylenehan dan “kesaktiannya” yang membuat orang-orang di sekitarnya heran kepalang.

Saridin terlahir bukanlah sebagai pribadi yang sempurna, tapi justru sarat dengan problematika. Kendatipun demikian Saridin tidak pernah putus asa. Ternyata dengan berguru antara lain melalui asuhan Kanjeng Sunan Kalijaga Saridin berkembang cukup mengagumkan berkat pengabdiannya yang tinggi kepada guru-gurunya.

Saridin juga tidak merasa hina ketika dinilai sebagai pribadi yang tak pernah tersentuh wudlu, tak pernah sholat dan sebagainya. Bagi Saridin penilaiaan orang itu tidak berarti apa-apa, bahkan Saridin tetap saja melakukan hal terbaik bagi kehidupan. Tampaknya Saridin justru sadar pujian seringkali malah menjerumuskan, maka Saridin tak haus pujian. Namun lebih suka pada aksi nyata.

Maka ketika Saridin berniat mendirikan pesantren, banyak orang termasuk santri kepercayaan Sunan Kudus, Ketib, juga menilai atas dasar apa Saridin yang “ndeso nglutuuk” berani memproklamirkan diri mendirikan pesantren. Namun tetap saja Saridin jalan terus, ibarat anjing menggongong kafilah tetap berlalu. Saridin tampaknya berprinsip bahwa mendirikan pesantren adalah hak setiap manusia, bukan monopoli kyai atau kelompok tertentu. Siapapun yang peduli atas masa depan kemanusiaan maka institusi pesantren adalah salah satu medianya, maka tidak perlu orang secara subyektif menghakiminya.

Apa yang dilakukan Saridin seperti itu telah merobohkan kemapananan yang selama ini pesantren dimonopoli oleh orang-orang yang diklaim sebagai kyai. Kalau pesantren dalam hal ini diposisikan sebagai penanda budaya pendidikan yang beradab, maka mestinya pendidikan itu tak harus di sekolah tetapi siapapun bisa menyelenggarakan pendidikan yang yang murah dan berkualitas sebagaimana pesantren ala Saridin.

Meskipun jejak langkah Saridin masih merupakan misteri, namun setidaknya menurut juru kunci makam Saridin, RH. Damhari Panoto Jiwo, menjelaskan bahwa Saridin adalah putra dari Syekh Abdul Hasyim dari Timur Tengah yang sedang mengembara di Jawa. Kalau kemudian Saridin juga dikenl sebagai Syekh Jangkung tak lepas dari kepribadiannya yang dikenal sebagai pribadi yang kinasih oleh Sang Pencipta dan jangkung (dikabulkan) segala permintaannya, maka dalam bahasa Jawa disebut Sih (kinasih) Jangkung (dikabulkan).

Saridin dilahirkan di Landoh, Kiringan, Tayu, Pati. Dinamakan Saridin (dari dua kata “sari” berarti inti/esensi dan kata “din” berarti agama), sehingga Saridin dimaksudkan sebagai sarinya agama (esensi agama).  Maka semangat belajar/berguru Saridin juga sangat tinggi, melalang “meguru” berbagai Wali dan ahli ilmu. Diantara guru-guru Saridin adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Muria juga kepada Sunan Kudus.

Karena itu atas keilmuannya itu, maka Saridin dikinasih oleh Yang Maha Kuasa dan dijangkung (dikabulkan) segala ucapannya oleh Sang Pencipta. Ini antara lain alasan mengapa Sadin dijuluki Sih Jangkung. Namun setelah berguru dari Ngerum (Romawi/sekarang  Turki), Saridn benar-benar mendapat predikat Syekh Jangkung dalam arti sesungguhnya karena disamping memang keturunan Syekh, juga keilmuannya juga “tabahur” (luas) sebagaimana panggilan Syekh di Timur Tengah adalah yang ahli ilmu. 

Karena berbagai keistimewaan dan kelebihannya, maka Saridin ini tak hanya terkenal di pesisir Jawa Demak, Kudus, Pati, Rembang tetapi juga sampai di Cirebon, Betawi dan juga Palembang. Sedangkan di Kerajaan Mataram, Saridin diambil ipar oleh Sultan Agung, karena kakaknya Sultan Agung yang bernama Den Ayu Retno Jino dipersunting oleh Saridin yang makamnya bersebelahan dengan Saridin di Kayen, Pati.

Sebelumnya Saridin telah menikah dengan istri pertamanya bernama bernama Sarini yang berputra Momok namun akhirnya meninggal ketika masih perjaka. Lalu menikah lagi dengan putri dari Cirebon yang bernama Pandan Arum memiliki putra satu bernama Raden Tirto Kusuma akhirnya menurunkan generasi hingga sekarang termasuk juru kunci makam Saridin sekarang yakni RH. Damhari Panoto Jiwo sebagai keturunan yang ke-11.

Diantara peninggalan (petilasan) Saridin yang masih sampai sekarang adalah Sumber berupa sumur kampung Ndonga. Diantara keistimewaannya sumur tersebut, konon suatu saat Saridin minta minum seseorang di kampung tersebut, tidak dikasih karena air sedang jarang (musim kering), lalu ia menusukkan encis (sebangsa gaman) ke tanah, lalu akhirnya keluarlah sumber air yang mengalir dengan derasnya dan bertahan hingga sekarang.

Kasus mata air juga pernah terjadi di Mataram Kota Gede. Suatu ketika prajurit Mataram sedang kehausan, namun sedang tidak ada air di sekelilignya. Maka Saridin akhirnya mendorong mata air dari bawah, sementara Sultan Agung menariknya dari atas. Maka atas upaya itu mengalir mata air dari bawah ke atas, sebagai salah satu kejadian yang langka di Imogiri.13

Fenomena Saridin telah mengakar dalam cerita rakyat di daerah sekitar pesisir utara terutama Pati. Begitu mendengar Saridin maka orang akan selalu ingat cerita seorang tokoh kontroversial di zaman kuwalen (Walisongo). Pada era Walisongo, di suatu daerah  pesisir utara pulau Jawa, tepatnya di daerah Pati, tersebutlah seorang pemuda desa yang lugu dan bersahaja, bernama Saridin. Nama Saridin mungkin tidak begitu tenar secara nasional, tapi sudah melegenda secara regional. Region itu adalah wilayah Demak Kudus Pati Juwono Rembang, atau yang sering dilafadzkan dalam akronim “Anak Wedus Mati Ketiban Pedang.”

Saridin seorang sakti, namun lugunya tidak ketulungan, sehingga (seakan) tidak menyadari kesaktiannya. Dia pernah membunuh kakak iparnya, karena sang kakak sering mencuri durian miliknya. Saat itu kakaknya menyamar menggunakan pakaian harimau, sehingga Saridin tidak mengenali. Dengan sekali tombak, matilah sang ipar.

Saat ditanya oleh petugas, Saridin mengaku tidak membunuh kakaknya, melainkan membunuh harimau yang mencuri duriannya. Meskipun jika pakaian harimau dibuka, Saridin mengetahui bahwa itu kakak iparnya. Kalo secara hukum, Saridin tidak bersalah, karena membela miliknya, dan tidak menyadari kalau harimau itu adalah kakaknya.

Namun demikian, Saridin tetap harus dipenjara. Untuk memasukkan ke penjara bukan hal mudah, karena Saridin ngotot tidak bersalah. Akhirnya Adipati Jayakusuma, pemimpin pengadilan, menggunakan kalimat lain, bahwa Saridin tidak dipenjara, melainkan diberi hadiah sebuah rumah besar, diberi banyak penjaga, makan disediakan, mandi diantarkan. Akhirnya Saridin bersedia.

Sebelum dipenjara, Saridin bertanya apakah boleh pulang kalau kangen anak dan istrinya. Petugas menjawab: "boleh, asal bisa". Dan terbukti beberapa kali Saridin bisa pulang, keluar dari penjara di malam hari dan kembali lagi esok harinya.

Karena Adipati jengkel, Saridin dikenai hukuman gantung. Tapi saat digantung para petugas tidak mampu menarik talinya karena terlalu berat. Saridin menawarkan ikut membantu, dijawab oleh Adipati: "boleh, asal bisa". Dan karena ijin itu Saridin lepas dari talinya, lalu ikut menarik tali gantungan.

Adipati semakin murka, dan menyuruh membunuh Saridin saat itu juga. Sebuah tindakan putus asa seorang penguasa. Saridin melarikan diri sampai ke Kudus, yang kemudian berguru pada Sunan Kudus. Di sini Saridin tidak berhenti menunjukkan kesaktiannya, malah semakin menonjol.

Saat disuruh bersyahadat oleh Sunan Kudus, para santri lain memandang remeh pada Saridin, apa mungkin Saridin bisa mengucapkannya dengan benar. Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan semua orang. Saridin justru lari, memanjat pohon kelapa yang sangat tinggi, dan tanpa ragu terjun dari atasnya. Sampai di tanah, dia tidak apa-apa. Semua pada heran pada apa yang terjadi.

Sunan Kudus menjelaskan, bahwa Saridin bukan cuma mengucapkan syahadat, tapi seluruh dirinya bersyahadat, menyerahkan seluruh keselamatan dirinya pada kekuasaan tertinggi. Kalau sekedar mengucapkan kalimat syahadat, anak kecil juga bisa. Namun Saridin masih tetap dilecehkan oleh para santri.

Maka ketika sedang ada kerja bakti antara lain kegiatan mengisi bak air untuk wudlu, Saridin bukannya diberi ember, malah diberi keranjang. Tapi dengan keranjang itu pula Saridin bisa mengisi penuh bak air. Saat Saridin mengatakan bahwa semua air ada ikannya, tidak ada yang percaya. Akhirnya dibuktikan, mulai dari comberan, air kendi sampai air kelapa, ketika semua ditunjukkan di depan Saridin, semua ada ikannya.

Akhirnya Saridin diusir oleh Sunan Kudus, harus keluar dari tanah Kudus. Saridin yang ternyata juga murid dari Sunan Kalijaga ini bertemu lagi dengan gurunya. Saridin diperintahkan untuk bertapa di lautan, dengan hanya dibekali 2 buah kelapa sebagai pelampung. Tidak boleh makan kalo tidak ada makanan yang datang, dan tidak boleh minum kalau tidak ada air yang turun.

Saridin dalam cerita rakyat juga mampu menghidupkan orang mati (biidznillah) dengan bantuan gamping, lalu menyembuhkan putri Raja Blambangan yang sedang terjangkit suatu penyakit yang membahayakan. Juga mengenai kerbau milik Saridin, yang semula sudah mati, tapi karena Saridin memberikan sebagian umurnya pada kerbau itu, sehingga kerbau tersebut hidup kembali. Pada saat Saridin meninggal, kerbau tersebut ternyata juga mati. Lulang (kulit) kerbau tersebut diyakini memiliki kekuatan magis. Barang siapa membawanya, maka tidak akan mempan senjata. Sampai saat ini para kolektor benda antik masih banyak yang memburu kulit ini, yang bernama Lulang Kebo Landoh.14

Pelajaran menarik dari sikap Sariden dalam cerita di atas adalah kesedian Saridin untuk berbagi kehidupan dengan seekor kerbau yang telah mati. Narasi Saridin yang bersedia menyambungkan nyawa kerbau atas nyawanya adalah sebagai penanda adanya tingginya kesalehan Saridin kepada sesama makhluk Allah, meski dengan binatang sekalipun. Hal ini juga sekaligus sebagai wujud kepedulian Saridin atas lingkungannya yang mencerminkan memuliakan kepada alam semesta agar keselerasan hidup bisa terjaga.

Ternyata kalau manusia saling mau berbagi kehidupan, mereka justru tidak menjadi melemah, tetapi malah menjadi saling kuat liar biasa. Narasi bahwa kebalnya kerbau dari sembelihan dengan pisau (berang) biasa menunjukkan bahwa ketahanan jiwa dan raga akan saling menguatkan manakala terjadi keseimbangan dan keserasian alam sebagaimana tercermin dalam relasi kehidupa pada detik-detik terakhir antara Saridin dengan kerbau landoh. 

Dengan demikian Saridin telah mencitrakan sebagai sosok yang lugu dan murni. Saridin beragama dengan “telanjang”, tulus dan merakyak (populis).  Pada saat dunia keberagamaan di negeri ini dipenuhi dengan topeng-topeng kehidupan baik dalam aspek sosial, budaya maupun politik, maka apa yang dilakukan dan diekpresikan oleh Saridin menjadi menarik karena Saridin telah mengajarkan cara beragama dengan lugu dan murni. Maka tak berlebihan kalau Saridin adalah peletak keberagamaan yang lugu yang terbuka (the idea of inclusive religious purity).

Dengan kata lain Saridin telah berhasil membongkar kemapanan dan mengkonstruk identitas keberagamaan yang lugu dan murni, namun tetap terbuka (inklusif) atas keberagamaan kelompok lain. Sehingga klaim-klaim sebyektif atas keberagaamaan seseorang atau kelompok orang dianggap sebagai sesuatu yang perlu dihindari dengan tetap melakukan proses obyektifikasi atas Islam agar Islam benar- benar menjadi penebar rahmah bagi seluruh penghuni alam semesta. Hal ini juga berarti dalam beragama tidak bisa dengan balutan kepentingan politik sesaat, karena hal ini justru akan menciderai dan mereduksi makna esensial agama sebagai way of life secara utuh.



2. Saridin dalam Konstruksi Budaya Lokal

Cerita dan legenda saridin telah mengakar dalam masyarakat pesisir. Bahkan berbagai kisah dan ceritanya telah  direproduksi  dalam seni kethoprak,15 kesenian khas dari Pati. Setidaknya dapat didengarkan dalam pemutaran kasetnya yang dipancarkan lewat pengeras suara atau radio lokal. Misalnya lakon Saridin atau Syeh Jangkung, terutama bagian Andum Waris. Lewat pita kaset rekaman Dahlia Record, sekitar 20 tahun lalu, boleh dibilang lakon yang disajikan Ketoprak Sri Kencono Pati ini paling digemari.

Tak jarang pula dipentaskan di panggung tanggapan. Malahan pada akhir tahun 80-an, hampir tiada hari tanpa pemutaran lakon yang terdiri atas beberapa seri, mulai dari Andum Waris, Pager Mangan Tanduran, Ontran-ontran Cirebon, Ontran-ontran Mataram, Sultan Agung Tani, sampai Keris Syeh Jangkung (Ondho Rante) ini. Tak mengherankan jika lakon ini menjadi bagian dari ingatakan kolektif masyarakat Pati dan sekitarnya. Bahkan sekarang beberapa lakon Saridin misalnya Saridin Andom Waris dan juga Lakon Ondho Rante Syeh Jangkung begitu mudah ditemukan dalam bentuk Compact Disc (CD), sehingga turut meramaikan pasar CD serial Kesenian tradisional Kethoprak.

Selain itu fenomena Saridin juga telah tereprodukdi dalam bentuk Suluk.  Suluk biasanya berisi tentang sejarah kerajaan, ajaran, pesan leluhur, ajaran agama.16 Sebagaimana pada penjelasan sebelumnya, bahwa diantara alasan orang tuanya menamakan “Saridin” adalah agar menjadi intinya agama atau “sarinya din (agama)”.17 Kalau ada sebuah suluk yang diberi nama “Suluk Saridin (Syekh Jangkung” tampaknya juga tak lepas dari hubungan paradigmatik dengan mentalitas dan spiritualisme Saridin. “Suluk Saridin (Syekh Jangkung” yang ditulis oleh Alang Alang Kumitir juga berisi ajaran-ajaran esensial Islam merupakan wujud sarinya Islam.

Dmikian juga dengan karya sastra Cerita Bersambung (Cerbung) “Saridin Mokong” yang ditulis oleh Sucipto Hadi Purnomo, dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Semarang (Unnes).  Cerbung tersebut ditulis dalam bahasa Jawa dialek khas Pati, sehingga menjadi berkarakter dan memiliki identitasnya sendiri. Bahkan semangat penulisnya juga tak jauh dengan spirit Saridin yang membongkar kemapanan bahasa Jawa yang selama ini dihegemone oleh Bahasa Jawa Solo-Yogya.

Melalai Cerbung “Saridin Mokong” di Harian Suara Merdeka selama 200 lebih edisi, merupakan ekpresi gugatan terhadap konsep pengiblatan kebudayaan Jawa yang selama ini terlalu mengarah ke Solo-Yogya sebagai representasi kemapanan, kian hari kian menemukan entitasnya.



3. Konsekwensi Syahadat Saridin

Kalau kebanyakan orang dua kalimah syahadat itu dicapkan dengan secara lisan dan diyakini dengan hati dan diamalkan tindakan. Statement secara lisan adalah bagian penting dari sebuah persaksian syahadat pada umumnya. Namun tidak demikian dengan Saridin.

Saridin lebih mengedepankan syahadat bilhal (dengan perbuatan) daripada syahadat billisan (ucapan). Kesipan Saridin yang diminta bersyahadat kemudian langsung naik kelapa pohon kelapa hingga ujungnya, dan sesampai puncak kemudian dia menjatuhkan diri adalah penanda kepasrahan total Saridin kepada Sang Pencipta dan sekaligus menunjukkan penafian dirinya sebagai ada. Yang ada sesungguhnya adalah Allah Sang Pencipta, maka bersyahadat harus berani menafikan segala yang ada termasuk dirinya sehingga hanya menuju satu tutuan yaitu “menyatu” dengan Dzat Yang Maha Tinggi.18

Dan tampaknya keselamatan Saridin yang meski jatuh dari pohon kelapa yang cukup tinggi yang menurut ukuran adat manusia akan mati, tetapi tidak bagi Saridin menunjukkan bahwa Saridin memiliki kedekatan pribadi dengan Sang Pencipta, sehingga dia mendapatkan keistimewaan. Maka tak berlebihan kalau Saridin dijuluki sebagai pribadi yang kinasih (Sih-Syeh) dan dijangkung (dikabulkan) segala ucapannya. Maka terkenal dengan Syekh Jangkungnya. 

Sementara berbagai bentuk “perselisihan” yang terjadi antara perilaku Saridin sebagai bagian dari kelompok muslim yang lugu, namun selaras antara ucapan dan perbuatan pada satu sisi dan Katib, santri kepercayaan Kanjeng Sunan Kudus sebagai bagian dari kelompok yang memegang teguh aturan secara ketat sebagimana kelompok penegak hukum di Pati menunjukkan adanya dua tipe Islam yang berbeda sudut pandang.

Untuk membantu identifikasi, dua tipe Islam tersebut adalah Islam sufistik-populis dan Islam sufistik-politis. Islam sufistik-populis adalah Islam yang diejawantahkan oleh Saridin dengan keluguan total melalui tindakan nyata dan riil tanpa melihat terlalu detail kepentingan-kepentingan individu atau orang lain. Mereka pasrah total sebagai wujud syahadat bilhal sebagaimana dilakukan oleh Saridin.

Sementara Islam sufistik-politis tampaknya lebih dikedepankan oleh kelompok Katib dan para santri dari Kanjeng Sunan Kudus yang cenderung mudah menilai kelompok lain secara subyektif sehingga pola-pola Islam yang keluar dari pakem yang pada umumnya telah berjalan dianggap sebagai Islam yang neko-neko, karenanya perlu singkirkan atau paling tidak diminta pertanggungjawabannya agar tidak “menyesatkan” bagi umat Islam yang lain.

Apa yang dilakukan oleh Saridin memang sudah keluar dari pakem dalam banyak hal mulai dari cara komunikasi Saridin yang lebih mengandalkan gagasan-gagasan lugu dan murni (the idea of purity) sehingga mengecohkan para khalayak, hingga cara bersyahadatnya yang justru mengundang detak tanda tanya besar.

Namun yang menarik Saridin juga sadar bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda terutama dalam berinteraksi dengan yang transenden. Karena itu syahadat seseorang dalam “berislam” tampaknya bagi Saridin tidak bisa dipukul rata sebagai wujud kepasrahannya. Masing-masing orang memiliki pengalaman spiritual dan pengalaman keagamaan (religious experineces) yang tak lepas dari pengaruh guru-gurunya.

Karena itu ketika sekarang kehidupan keberagamaan dan perilaku spiritualitas sedang dihadapkan pada budaya hedonisme dan materialisme yang cenderung mengedepankan keberagamaan yang artifisial karena cenderung menonjolkan simbul-simbul ketimbang esensi-esensi, maka tipe atau model Islam sufistik-populis sebagaimana dikembangkan oleh Saridin menjadi menarik dihadirkan kembali untuk membersihkan pola-pola agama yang lebih menonjolkan kepentingan (politis) meski dengan balutan kegiatan spiritual-sufistik yang tampak tidak hanya dalam ranah kegiatan politik, tetapi juga dalam lingkup sosial, budaya, maupun ekonomi.

Namun Islam sufitik-populis saja tampaknya jauga tidak cukup karena pada akhirnya juga akan terjebak pada munculnya “orgasme spiritual” yang hanya dinikmati oleh dirinya sendiri kurang memberikan semangat transformasi sosial yang lebih luas. Karena itu  Islam sufitik-populis akan menjadi lebih memiliki eksistensi kekuatan perubah ketika diintegrasikan dengan Islam sufistik-politis, karena tidak bisa dipungkiri bahwa Islam sendiri adalah sarat dengan nilai. Karena itu beragama sesungguh juga sarat dengan kepentingan baik dalam dimensi sosial maupun transendental.

Karena itu menjadi muslim sufistik yang populis akan menjadi pribadi muslim yang lebih obyektif dalam pengertian tidak terlalu mengambil pusing adanya perbedaan warna Islam. Karena perbedaan dalam Islam adalah akan menjadi rahmat. Sementara menjadi muslim sufistik-politis akan mendorong keberagamaan seseorang juga harus memperhatikan kepentingan orang lain sehingga keberagamaan yang dipilihnya juga turut memberi faedah kepada orang lain (anfa’uhum linnas) meskipun seringkali masih terjebak pada subyektivitas. Karena itu dua tipe Islam sufistik-populis dan Islam sufistik-politis sesungguhnya tetap dibutuhkan dalam koneks untuk saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Dengan seperti itu maka Islam akan semakin kuat memberi manfaat tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi tatanan sosial untuk memperkuat sistem sosial yang lebih didasarkan pada Islam sebagai way of life baik pada tataran idealitas maupun realitas.

Karena itu Saridin bukan sekedar sebuah nama orang, tetapi mentalitas dan sistem keyakinannya telah menjadi semacam ideologi yang menjadi panutan bagi orang-orang disekelilingnya. Saridinisme yang kelompok yang menganut “ajaran-ajaran” Saridin tampaknya masih hadir dalam konteks sekarang. Kenyataan ini setidaknya antara lain dapat dilihat dari terdapatnya  komunitas Sedulur Sikep di daerah Sukolilo Pati yang mengedepankan perilaku lugu dan hal-hal yang demunung  (jelas asal-usulnya) tampaknya ide dasarnya tak jauh beda dengan tipe Saridin dalam memahami dan menerjemahkan realitas.

 Meskipun secara jelas komunitas Sedulur Sikep lebih mengedepankan ketokohan Samin Suryosentiko sebagai cikal-bakalnya. Namun nilai-nilai yang dikembangkan oleh komunitas Sedulur Sikep seperti: Aja drengki srei, tukar padu, dahpen kemeren. Aja kutil jumput, bedhog-colong (Jangan dengki, jangan suka bertengkar, jangan iri. Jangan suka mengambil milik orang lain tanpa seizin pemiliknya). Bahkan ajaran-ajaran etika sosial seperti itu tampaknya dalam lakon kethoprak juga banyak diucapkan oleh Saridin.

Keislaman Saridin sudah tidak bisa diragukan lagi, meskipun syahadat Saridin hingga sekarang menuai kontroversi. Apalagi Saridin juga dikenal memiliki para guru-guru istimewa dari para Wali kenamaan di Jawa, mulai dari Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Muria hingga kepada Sunan Kudus, meskipun juga sarat dengan “konflik” dan ontran-ontran. Dengan demikian tidak disangsikan lagi bahwa peran Saridin dalam mengenalkan Islam kepada khalayak juga tidak bisa diabaikan begitu saja.  Karena itu mentalitas Saridin yang ikhas, sabar, taat kepada guru dan orang tua, jujur dan iman pada Kuasa Allah adalah nilai-nilai positif yang relefan dengan pendidikan karakter Islam dalam konteks kekinian.

4. Relefansi “Islamisme” Saridin untuk Pendidikan Karakter

Secara istilah, karakter sebagaimana dinyatakan oleh Lickona (1991, 51) bahwa, “Character so conceived has three interrelated parts: moral knowing, moral feeling, and moral behavior . . . habits of the mind, habits of the heart, and habits of action”.19 Dengan kata lain karakter akan terkait dengan mengerti tentang kebaikan, mencintai kebaikan dan melakukan kebaikan.  Mengerti kebaikan tidak melulu dalam arti pengertian kognitif. Tetapi di dalamnya juga terkait dengan pengertian praktis, pengertian yang terkait dengan tindakan.

Dalam terminologi Islam, istilah karakter lebih dikenal dengan akhlak. Untuk sampai pada tingkat itu, struktur akhlak (karakter Islami) harus bersendikan pada nilai-nilai pengetahuan ilahiah, bermuara dari nilai-nilai kemanusiaan dan berlandaskan pada ilmu pengetahuan.20 Hal ini juga ditegaskan oleh Abdullah (2010) bahwa karakter perlu diawali dengan Pengetahuan (teori).  Pengetahuan (teori) tersebut bisa bersumber dari pengetahuan agama, sosial, budaya. Kemudian dari pengetahuan itu diharapkan dapat membentuk sikap atau akhlak yang mulia. Namun yang paling penting dari rangkaian panjang ini adalah mengamalkan apa yang diketahui itu. 21

Apa yang dilakukan Saridin dalam banyak kasus, lebih-lebih yang tercermin dalam Syahadat Saridin, menunjukkan bahwa Saridin justru mengedepankan unsur terpenting dari karakter yaitu langsung mengamalkan apa yang diketahui itu (acting) dalam kehidupan nyata, tak terjebak pada konsep teoritis yang njlimet. Apa yang dilakukan Saridin adalah wujud syahadat total (kepasrahan total) atau dalam bahasa Jawa disebut Ngawulo ing Gusti baik secara lahir maupun batin. Dengan kata lain ”Islamisme” Saridin justru menunjukkan Islam yang lugu (murni) dan demunung (realistik).

Diantara nilai-nilai karakter yang bisa ditemukan dalam ”Islamisme” Saridin antara lain: (1) Ikhlas: kalau dalam Islam niat ditempatkan sebagai entitas terpenting dalam setiap tindakan manusia sebagai barometer penuatan keikhlasan. Maka Saridin mengajari ilmu ikhlas dengan sebuah pernyataan sederhana sebagai berikut: Ojo jupuk nek ora dikongkon, ojo jaluk nek ora diwe’i22 (jangan mengambil kalau tidak diperintahkan, jangan meminta kalau tidak diberi). Hal ini menunjukkan pentingnya sepi ing pamrih (ikhlas) dalam menjalankan kehidupan; (2) Sabar;  meski banyak tuduhan yang menyesatkan dirinya serta fitnah yang bertubi-tubi menimpa dirinya; (3) Jujur;  Saridin selalu berkata jujur dalam segala ucapan dan tindakannya, entah itu salah atau benar. Misalnya ketika Saridin dipenjara,karena Adipati juga mengizinkan menjenguk keluarga kalau dia bisa23; (4) Berbakti kepada orang tua dan gurunya;  baik dalam wujud larangan maupun perintah. Bahkan perintah yang berat sekalipun, misalnya harus bertapa selama delapan tahun di tengah laut, Saridin tetap mengikutinya demi mencari kemulyaan hidupnya;24 (5) Peduli lingkungan; antara lain diekpresikan dengan kemauannya berbagi kehidupan dengan kerbau yang kemudian dikenal dengan Kerbau Landoh. Demikian juga wujud pertapanya di laut bersama dua kelapa sebagai pelampung, adalah penanda pentingnya kehidupan bersama tetumbuhan, karenanya perlu menjaga keseimbangan alam; (6) Iman Kuasa Allah; Meskipun Saridin terkesan slengekan, namun dalam merspon segala kehidupan selalu disandarkan pada kesadaran transendental akan adanya Kuasa Allah termasuk terkait rizki dalam wujud apapun yang diterima olehnya.25

Nilai-nilai moral sebagaimana terurai di atas bagi Saridin tak sekedar dipahami pada tataran teoritis (knowing), tetapi justru sudah terinternalisasi menjadi karakter pribadi Saridin yang lugu dan demunung. Karena itu “Islamisme Saridin” sesungguhny adalah being Islam bukan sekedar having Islam (“Islam KTP”). Keberagamaan dalam konteks seperti Saridin seperti itulah yang dirindukan oleh dunia pendidikan karakter yang akhir-akhir ini sedang digalakkan oleh pemerintah.

Ketika seorang pakar pendidikan karakter, Kartadinata menegaskan bahwa pengembangan karakter menuntut adanya kesadaran budaya (cultural awareness) dan kecerdasan budaya (cultural intellegence), maka sudah menjadi keniscayaan bagi masyarakat pesisir untuk memperhatikan warisan budaya dari Saridin agar karakter muslim yang terbangun juga lebih kuat dan mengakar pada tradisi. Dengan pespektif seperti inilah identitas karakter dan budaya bangsa bisa tersemaikan kembali.



Kesimpulan



Dari beberapa uraian sebelumnya dapat dirumuskan beberapa kesimpulan sebagai hasil temuan riset ini adalah sebagai berikut:

1.      Cerita, kisah, legenda dan sejarah Saridin dalam mesyarakat pesisir terutama di Pati masih bertahan kuat di masyarakat bawah karena proses reproduksi budaya masih terus berlangsung baik melalui seni, karya sastra maupun tradisi lokal.

2.      Diantara media komunikasi dan reproduksi budaya tersebut antara lain kesenian tradisional kethoprak, karya sastra Suluk Saridin, Cerita Bersambung Saridin Mokong, dan tradisi Buka Luwur setiap bulan Rajab.

3.      Citra Saridin dalam bergumul dengan Islam dan tradisi setidaknya dapat diidentifikasi menjadi dua; Pertama dalam bergumul dengan tradisi, Saridin dikenal dengan keluguan dan semangat keluar dari tatanan (status quo) melalui perlawanan dengan sikap “nggendeng” yakni berlagak tidak tahu, untuk tahu sebagaimana terejawantahkan dalam sikap dan perilaku komunitas Sedulur Sikep (sikepisme) di Sukolilo, Pati. Kedua, Saridin dalam bergumul dalam Islam telah memunculkan semacam varian Islam sufistik-populis, yakni warna Islam yang sederhana dengan perilaku dan kasunyatan, tidak terlalu baku.

4.      Relefansi ajaran dan karakter Saridin dalam konteks kehidupan sosial keagamaan setidaknya tercermin dalam dua hal: pertama, penekanan Saridin yang menekankan perilaku (acting) daripada sekedar memahami (knowing) adalah sejalan dengan misi pendidikan karakter yang menekankan habitus, yakni struktur kognitif yang terinternalisasi dalam tindakan nyata (pembiasaan). Kedua, terdapat nilai-nilai utama yang dipegang teguhn oleh Saridin yakni: (1) keikhlasan, (2) kesabaran, (3) ketaatan kepada guru dan orang tua, (4) kejujuran, (5) peduli lingkungan, dan (6) iman atas Kuasa Allah. Hal ini juga selaras dengan tuntutan pendidikan karakter yang menekankan pentingnya kesadaran budaya (cultural awareness) dan kecerdasan budaya (cultural intellegences) sebagaimana dilakukan oleh Saridin.



Daftar Pustaka



Abdullah, Irwan, Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006)

Barthes, Roland, Mythologies, (Hill and Wang, New York,1983).

___________,   Elements of Semiology, transleated from the Frenc by Annette Lavers and Colin Smith, (New York: Hill and Wang)

Bourdieu, Pierre, Outline of  a Theory of Practice, (Cambridge:  University Press, 1972)

___________, Distintion: A Social Critique of the Judgement of Taste, (Cambridge-MA.: Harvard University Press, 1984)

Drewes, G.J.W., Perdebatan Walisongo Seputar Ma’rifatullah, (Surabaya: Al Fikr, 2002).

Purwadi, Babad Tanah Jawa,Menelusuri Jejak Konflik  (Yogyakarta; Pustaka Alif, 2001)

Budiman, Hikmat (ed.), Hak Minoritas; Dilema Multikulturalisme Indonesia, (Jakarta: TIFA & The Interseksi Foundation, 2007)

Bizawie, Zaenul Milal, Perlawanan Kultural Agama Rakyat; Pemikiran dan Paham Keagamaan Syekh Ahamad al-Mutamakkin dalam Pergumulan Islam dan Tradisi (1645-1740), (Yogyakarta: SAMHA, 2002). 

Eco,  Umberto, A Theory of Semiotics, (Bloomington: Indiana University Press,  1979)

Endraswara, Suwardi, Tradisi Lisan Jawa; Warisan Abadi Budaya Leluhur, (Yogyakarta: Narasi, 2005)

Geertz, Clifford, The  Interpretation of Culture, (New York: Basic Books, 1973)

Harker, Richard, Pengantar Paling Komprehensif Kepada Pemikiran Pierre Bourdieu,  (Yogyakarta: Jalasutra, 2004)

Haryatmoko, “Menyingkap Kepalsuan Budaya Penguasa”, dalam Basis No.11-12 ke-52, November-Desember 2003

Kayam, Umar, Pertunjukan Rakyat Tradisional Jawa dan Perubahannya, (Yogyakarta: Galang Press, 2000).

Koentjoroningrat, Pengantar Antropologi, (Bandung: Rineka Cipta, 1996)

Said, Nur, “Stategi Saminisme dalam Membendung Bencana Alam; Perlawanan Sedulur Sikep thp Rencana Pembangunan Pabrik Semen di Sukolilo, Pati”, dlm Konferensi Hibah Penelituan Interpretasi & Respons atas Bencana Alam, Kajian Integratif Ilmu, Agama, dan Budaya; Pascasarjana UGM Yogyakarta, 11 Maret 2010.

Stokes, Jane, How To Do Media and Cultural Studies, (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2006).



Internet/Surat Kabar/Media Lainnya:



Alang Alang Kumitir, “Suluk Saridin (Syekh Jangkung)”, dalam http://alangalangkumitir.wordpress.com/category/suluk-saridin-syekh-jangkung/(diakses , 28 September 2009)

DVD 1 Andum Waris. Serial Syeh Jangkung, Kesenian Tradisional Kethprak, Bangun Budoyo, DVD Version.

Muflikhah, “Sosok Tokoh Saridin Dalam Seni Kethoprak Terhadap Penanaman Budi Pekerti Siswa dan Implikasinya Terhadap Pengajaran Bahasa Jawa”, Skripsi UNNES 2006.

Sobary, Mohamad, ”Kang Saridin” dalam Asal-usul Harian  KOMPAS, 29 Desember 2002.

“Mengungkap Sosok Saridin (1); Syeh Jangkung ketika Kecil Sangat Nakal” dalam HARIAN SUARA MERDEKA, 28 April 2004.

“Pengertian Suluk” dalam  http://budayajawa.wordpress.com/2009/ 01/06/pengertian-suluk/ (diakses tanggal 28 September 2009).

“Sarasehan Saridin Mokong Menggugat Hegemoni Bahasa Jawa Solo-Yogya” dalam SUARA MERDEKA, 04 Februari 2008

“Saridin” dalam http://www.mahesajenar.com/2007/02/ saridin.html (Online 15 September 2009).



Endnotes :



*Penulis adalah alumni  S1 Fakultas Tarbiyah dan S2 IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (1994-2004). Penulis juga tamat di S2 Studi agama dan lintas budaya UGM Yogyakarta (2000-2003). Sekarang disamping sebagai dosen tetap STAIN Kudus,juga sedang menyelesaikan studi S3 Program Pengembangan Kurikulum di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Bisa dihubungi di email: nursaid@ymail.com.

[1]Wawancara dengan wawancara peneliti dengan juru kunci ke-11 makam Syekh Jangkung, RH. Damhari Panoto Jiwo, pada September 2009.

2Kethoprak merupakan seni pertunjukan tradisi lisan populer di Pati. Penamaan istilah Kethoprak tak lepas dari kata “prak”yaitu suara keprak (kenthongan) kecil yang selalu ditabuh saat transisi antara satu cerita dengan cerita lainnya. Lihat, Suwardi Endraswara, Tradisi Lesan Jawa, Warisan Abadi Budaya Leluhir, (Yogyakarta: Narasi, 2005) h. 189. Pati termasuk daerah yang banyak terdapat kelompok Seni Ketoprak bahkan  pada masa kejayaannya sekitar tahun 80-an ada sekitar 60an kelompok Seni Kethoprak. Sekarang yang masih aktif tinggal 40-an kelompok Kethoprak. Sampai sekarang seni Kethoprak ini masih sering manggung sebagai hiburan publik di Simpang Lima, Alun-alun Pati, sebulan sekali meski hal ini masih dibeayai mandiri oleh para pegiat Seni di Pati. Wawancara peneliti dengan pegiat budaya asal Pati, Munawir, pada 16 Juni 2008. 

3Bourdieu mengembangkan apa yang disebut dengan tindakan bermakna. Menurutnya tindakan manusia terkait dengan perilaku orang lain dalam suatu struktur tertentu. Maka untuk memahami tindakan manusia juga harus memperhatikan dimensi simbolis yang darinya bisa membantu dalam memahami mekanisme dominasi-dominasi antara yang dikuasiai dan yang menguasai. Richard Harker, Cheelen Mahar, Chris Wilkes (ed), Pengantar Paling Komprehensif Kepada Pemikiran Pierre Bourdieu,  (Yogyakarta: Jalasutra, 2004) hal. 8-7. Bandingkan dengan  Haryatmoko, “Menyingkap Kepalsuan Budaya Penguasa”, dalam Basis No.11-12 ke-52, November-Desember 2003, h.8-9.

[1]Wawancara peneliti dengan KH. Hamdani, pengasuh sebuah pesantren Kajen,  Pati  pada 7 Juni 2008.

4Wawancara peneliti dengan Gunritno, pemuda Sedulur Sikep, Baturejo,  Sukolilo, Pati pada 15 Juni 2008. Bandingkan dengan, Hikmat Budiman (ed.), Hak Minoritas; Dilema Multikulturalisme Indonesia, (Jakarta: TIFA & The Interseksi Foundation, 2007) h. 73-106.

5Beberapa bulan terakhir ini Komunitas Sedulur Sikep sedang melakukan  perlawanan untuk menolak upaya perusahaan Semen Nasional berencana membangun perusahaannya di Sukolilo Pati, bahkan perusahaan tersebut telah membeli lahan-lahan rakyat yang selama ini sebagai sumber penghidupan sebagai ladang dan sawah. Selengkapnya baca, Nur Said, “Stategi Saminisme dalam Membendung Bencana Alam; Perlawanan Sedulur Sikep terhadap Rencana Pembangunan Pabrik Semen di Sukolilo, Pati”, disampaikan dalam Konferensi Hibah Penelituan Interpretasi dan Respons atas Bencana Alam, Kajian Integratif Ilmu, Agama, dan Budaya; Sekolah Pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, 11 Maret 2010.

6Penggunaan istilah ‘Agama Rakyat” dalam proposal penelitian ini, peneliti terinspirasi pada tulisan Zaenul Milal Bizawie, ketika mencoba menjelaskan kontroversi ketokohan KH. Mutamakin yang dalam versi naskah Serat Cibolek yang dianggap sebagai figur yang dianggap pembangkang Syari’ah sehingga diadili dan diberi sangsi oleh penguasa saat itu. Ternyata dalam isi Serat Cibolek pada tingkat tertentu tak lepas dari paham agama sebagai produk hegemone penguasa, pada . Padahal KH. Mutamakin dalam cerita rakyat (baca: ‘agama rakyat’) dikenal sebagai Waliyullah, seorang Wali yang Sholeh, memiliki kedalaman tasawuf yang tinggi sehingga menjadi teladan bagi masyarakat Pati dan sekitarnya. Lihat, Zaenul Milal Bizawie, Perlawanan Kultural Agama Rakyat; Pemikiran dan Paham Keagamaan Syekh Ahamad al-Mutamakkin dalam Pergumulan Islam dan Tradisi (1645-1740), (Yogyakarta: SAMHA, 2002).  Karena itu ‘agama rakyat’ sebenarnya adalah istilah yang peneliti gunakan untuk menunjukkan agama dalam pengertian sistem kepercayaan/keyakinan, yang muncul dari bawah (buttom up), bukan karena hegemone penguasa. ‘Agama rakyat’ dalam Islam akan akan tercermin dalam Islam  lokal yang memiliki identitas khas di Pati, sementara dalam agama lokal ia bisa tercermin dalam komunitas Sedulur Sikep yang juga memiliki sistem nilai dan budaya khas yang kuat juga terdapat di Pati.

7Ibid. h. 26. Bandingkan juga dengan Roland Barthes, Element of Semiology,             h. 48-50.

8Suwardi Endraswara, Tradisi Lisan Jawa; Warisan Abadi Budaya Leluhur, (Yogyakarta: Narasi, 2005) h. 2-3. Bandinglan dengan Jane Stokes, How To Do Media and Cultural Studies, (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2006) h. 172-173.

9Clifford  Geerts, The  Interpretation of Culture, (New York: Basic Books, 1973) h. 5

1[1]Umberto Eco, “Social Life as a Sign System”,  dalam Robey David (Eds.), Structuralism: An Introduction, (Oxford: Clarendon Press, 1979) h. 61

[1]2 ST.  Sunardi,  Semiotika Negativa, h. 52

[1]3Diolah berdasarkan wawancara peneliti dengan juru kunci ke-11 makam Syekh Jangkung, RH. Damhari Panoto Jiwo, pada September 2009.

[1]4Lihat “Saridin” dalam  http://www.mahesajenar.com/2007/02/ saridin. html (on line 15 September 2009).  Bandingkan dengan  “Mengungkap Sosok Saridin (1); Syeh Jangkung ketika Kecil Sangat Nakal” dalam HARIAN SUARA MERDEKA, 28 April 2004.  Didukung wawancara dengan Diolah berdasarkan wawancara peneliti dengan juru kunci ke-11 makam Syekh Jangkung, RH. Damhari Panoto Jiwo, pada September 2009.

[1]5Kethoprak adalah salah satu bentuk seni tradisional Jawa yang sangat populer. Kesenian ini tidak hanya terdapat di Jawa, tetapi juga di wilayah lain di mana hidup dan bertempat tinggal orang-orang Jawa. Kethoprak terdapat di wilayah jawa Tengah, Jawa Timur, sedangkan di luar Jawa tersebut dapat dijumpai di daerah-daerah transmigrasi atau pemukiman orang Jawa seperti Lampung dan Medan. Selain itu, kethoprak juga terdapat di luar negeri, yaitu di Malaysia.  Kethoprak sesungguhnya berasal dari Jawa Tengah, tepatnya dari Klaten. Pencipta kesenian ini belum dapat diketahui oleh para peneliti. Meskipun demikian, kiranya dapat dipastikan, bahwa kethoprak lahir pada awal abad ke- 20. Munculnya kesenian kethoprak merupakan perkembangan dari permainan tradisional Jawa yang disebut gejogan dan kothekan. Permainan itu berupa penyanyian lagu-lagu rakyat seperti Ilir-ilir, Ijo-ijo, yang diiringi oleh bunyi lesung dengan berbagai ritme. Gejogan dan kothekan ini kemudian berkembang menjadi kethoprak lesung. Dalam kesenian yang baru ini instrumen musik ditambah dengan seruling. Dari kethoprak lesung berkembang menjadi kethoprak yang disebut gamelan, karena tidak lagi menggunakan lesung dalam pementasan tapi menggunakan seperangkat gamelan lengkap. Lihat, Umar Kayam, Pertunjukan Rakyat Tradisional Jawa dan Perubahannya, (Yogyakarta: Galang Press, 2000).

[1]6Lihat “Pengertian Suluk” dalam  http://budayajawa.wordpress.com/2009/01/06/pengertian-suluk/ (diakses tanggal 28 September 2009).

[1]7Wawancara peneliti dengan juru kunci ke-11 makam Syekh Jangkung, RH. Damhari Panoto Jiwo, pada September 2009.

[1]8Selengkapnya baca, Emha Ainun Nadjib, “Syahadat Saridin”, http://media.isnet.org/sufi/Etc/SyahadatSaridin.html (28 September 2009).

[1]9Thomas Lickona, Educating for Character, How Our School can Teach Respect and Responsibility, (New York. Bantam Books, 1991), h. 51.

20B. Saebani Ahmad. & A. Hamid, Ilmu Akhlak, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), h. 14-15. Bandingkan dengan Jalaluddin Rakhmat, Dahulukan Akhlak daripada Fiqh, (Bandung: Mizan, 2007), h. 5-6.

2[1]Amin Abdullah “Pendidikan Karakter : Mengasah Kepekaan Hati Nurani”. Makalah disampaikan pada acara Sarasehan Nasional Pendidikan Karakter,  Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Hotel Santika, Yogyakarta, 15 April 2010.

22Wawancara peneliti dengan juru kunci ke-11 makam Syekh Jangkung, RH. Damhari Panoto Jiwo, pada September 2009

23Cermati lakon Saridin dalam  DVD Kethoprak “Andom Waris”

24Ibid

25Ibid













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar