Selasa, 05 Juni 2012

Mitologi Kekuatan dalam Teologi Masyarakat Banjar Lama (Dekonstruksi Islam atas Teologi Kultur Masyarakat Banjar)


Jurnal V0l.22 N0.2 Juli 2011
Jurnal Terakreditasi SK Dikti N0.83/DIKTI/Kep/2009

Mitologi Kekuatan dalam Teologi Masyarakat Banjar Lama
(Dekonstruksi Islam atas Teologi Kultur Masyarakat Banjar)
Oleh. H.A.Sukris Sarmadi *

Mitologi Kekuatan dalam Teologi Masyarakat Banjar Lama (pahuluan) yang sudah mengakar dalam masyarakat ini ternyata dapat digantikan dengan teologi Islam. Meskipun dekontruksi teologi Islam terhadap mitologi kekuatan masyarakat Banjar lama masih terlihat tidak sempurna, pola tertentu masih hidup, namun secara nyata telah terjadi penghapusan dan pergantian dalam teologi Islam. Pengaruh Islam sudah sangat mendasar dalam teologi dalam masyarakat Banjar kini. Bahkan terlihat sudah menjadi tradisi dalam masyarakat. Padahal suatu mitologi kekuatan pada suatu masyarakat sangat sulit tergantikan kecuali dengan mitologi baru yang lebih kuat dan dapat dibuktikan kemampuannya. Dalam konteks ini, aktivitas santri Islam sudah mampu menggantikannya dengan cara tersendiri sehingga menjadi tradisi baru bagi masyarakat Banjar Islam di wilayah ini.

Kata kunci : Mitologi, Kekuatan, teologi, masyarakat Banjar, dekontruksi

A.    Pendahuluan
Suku Banjar dalam tulisan ini adalah masyarakat lama yang mendiami wilayah Propinsi Kalimantan Selatan. Beberapa tulisan terhadapnya menunjuk adanya kesamaan dengan penduduk Melayu Sumatera yang sudah tercampur dengan masyarakat asli daerah. Para penulis menyebutnya dengan suku Dayak. Hingga sekarang suku tersebut masih ada dan terkonsentrasi pada masyarakat daerah wilayah Provinsi Kalimantan Tengah (Dayak KalTeng) dan wilayah Provinsi Kalimantan Timur (Dayak KalTim). Kadang disebut pula dengan sebutan Dayak Banjar. Untuk sebutan terakhir ini, banyak referensi merujuk pada hasil penelitian Alfani Daud. Dalam laporan penelitiannya beliau mengatakan bahwa setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli, yang biasanya dinamakan secara umum sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang berdatangan belakangan, terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu (Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu dan Banjar Kuala.[1]
Orang Pahuluan pada dasarnya ialah penduduk yang mendiami daerah lembah sungai-sungai (cabang sungai Negara) yang berhulu ke Pegunungan Meratus. Mereka berdarah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok). Sedangkan orang Batang Banyu mendiami lembah sungai Negara, berdasah campuran Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai ciri kelompok). Adapun orang Banjar (Kuala) mendiami daerah sekitar Banjarmasin (dan Martapura) berdarah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok). Menurut Tim Haeda[2] secara sosio-historis masyarakat Banjar adalah kelompok sosial heterogen yang terkonfigurasi dari berbagai sukubangsa dan ras yang selama ratusan tahun telah menjalin kehidupan bersama, sehingga kemudian membentuk identitas etnis (suku) Banjar. Artinya, kelompok sosial heterogen itu memang terbentuk melalui proses yang tidak sepenuhnya alami (priomordial), tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang cukup kompleks.
Menurut Idwar Saleh[3] bahwa lanjutan dari kerajaan Daha dalam bentuk kerajaan Banjar Islam dan berpadunya suku Ngaju, Maanyan dan Bukit sebagai inti. Inilah penduduk Banjarmasih ketika tahun 1526 didirikan. Dalam amalgamasi (campuran) baru ini telah bercampur unsur Melayu, Jawa, Ngaju, Maanyan, Bukit dan suku kecil lainnya diikat oleh agama Islam, berbahasa Banjar dan adat istiadat Banjar oleh difusi kebudayaan yang ada dalam keraton....Di sini kita dapatkan bukan suku Banjar, karena kesatuan etnik itu tidak ada, yang ada adalah group atau kelompok besar yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu dan Banjar Pahuluan. Yang pertama tinggal di daerah Banjar Kuala sampai dengan daerah Martapura. Yang kedua tinggal di sepanjang sungai Tabalong dari muaranya di sungai Barito sampai dengan Kelua. Yang ketiga tinggal di kaki pegunungan Meratus dari Tanjung sampai Pelaihari. Kelompok Banjar Kuala berasal dari kesatuan-etnik Ngaju, kelompok Banjar Batang Banyu berasal dari kesatuan-etnik Maanyan, kelompok Banjar Pahuluan berasal dari kesatuan-etnik Bukit. Ketiga ini adalah intinya. Mereka menganggap lebih beradab dan menjadi kriteria dengan yang bukan Banjar, yaitu golongan Kaharingan, dengan ejekan orang Dusun, orang Biaju, Bukit dan sebagainya".
Sementara itu, Nama Banjar diperoleh dikarenakan adanya kerajaan Banjar di daerah ini sebelum dihapuskan pada tahun 1860 oleh Belanda. Sesuai nama ibu kotanya yaitu Banjar atau Kesultanan Banjarmasin. Sedangkan bahasa bagi suku Banjar adalah bahasa Melayu yang berbeda dengan bahasa Dayak. Meski dalam kosa kata bahasa Banjar selain di pengaruhi bahasa Sumatera dan Dayak juga di pengaruhi bahasa Jawa dikarenakan pernah terjadinya hubungan baik Kesultanan Banjar dengan Demak (Jawa).
Mitologi kekuatan dalam masyarakat Banjar sering dikaitkan dengan sisa-sisa kepercayaan agama lama sebelum Islam datang. Agama lama sering disebut dengan agama Kaharingan. Agama ini hingga sekarang masih dianut di pedalaman Kalimantan (penduduk bukit). Sejarah Banjar sendiri diakui sebelum masuknya Islam adalah masyarakat Hindu dengan dibuktikan ditemukannya berbagai peninggalan lama. Tidak heran, penduduk dalam Banjar kuala lebih sering menyebut agama bukit (penduduk yang mengisi pada lereng pegunungan Meratus) adalah Hindu Kaharingan. Dalam kompleksitas mitologi kekuatan hingga sekarang terjadi berbagai campuran yang ada dalam masyarakat Banjar. Mungkin dipengaruhi oleh subsuku seperti Banjar Pahuluan, Banjar Batang Banyu dan Banjar Kuala. Meskipun Islam telah datang pada masyarakat ini dan mulai mendekonstruksi teologi masyarakat lama hingga sekarang mitologi masih terlihat hidup bahkan menempel pada ajaran Islam kultur di daerah ini.

B. Mitologi Kekuatan Masyarakat Banjar Lama

Sebutan Masyarakat Banjar Lama dalam tulisan ini hanya untuk membedakan dengan pengaruh masuknya Islam dalam masyarakat Banjar. Corak mitologi kekuatan yang ada diakui masih diyakini sebagian masyarakat Banjar hingga sekarang oleh sisa teologi keagamaan lama sebelum Islam datang.
Beberapa bagian yang masih dianggap penting oleh masyarakat hingga sekarang dipergunakan, sbb :
1. Kekuatan Mantra
Salah satu mitologi kekuatan yang masih tersisa dalam kultur Banjar adalah mantra (magic word). Dalam konsep ini, Suku Banjar mengenal sastra lisan dalam bentuk mantra yang dimaksudkan untuk memperoleh suatu kekuatan yang dapat menguntungkan bagi orang yang membacanya. Misalnya munculnya mantra menyadap nira, mantra menangkap buaya, mantra mengambil madu, mantra menjinakkan ular, mantra bisik semar, mantra untuk mempercantik wanita, mantra pembungkam, dan mantra yang cukup menakutkan namanya yaitu mantra kata mayat.[4]
Mantra diperoleh dari tatuha kampung, suhu. Dalam konsep sejarahnya, mantra asli (sebelum pengaruh Islam terhadapnya) menggunakan bahasa Banjar asli pahuluan yang bila dibaca sebagiannya dapat dimengeti sebagiannya tak dapat dipahami dikarenakan telah terjadi perubahan bahasa lama dengan bahasa sekarang. Misal mantra makanan rempah lombok agar lombok menjadi sangat pedas atau justru dapat dikurangi pedasnya; wahai mamangan lumbuk, habanglah 3x ditiupkan di lombok maka lombok menjadi sangat pedas.[5] Bila ingin tidak pedas disebut,``wahai mamangan lumbuk, anumlah 3x. Bahasa ini sebagian dimengerti misal kata lumbuk adalah lombok, habang berarti merah, anum maksudnya muda. Sedangkan mamangan merupakan bahasa pahuluan yang ketika ditanyakan pada orang-orang tua tak dapat dijelaskan. Kata mamangan juga ditemukan pada mantra padi misalnya, ``wahai mamangan padi, bangun banualah. Mungkin mamangan adalah nama (ngaran) untuk semangat suatu jenis makanan.
Mantra lain untuk tujuan pada wanita sangat banyak sekali. Antara lain seperti berbunyi : Pas ku limpas mata tadung merah matanya, pas aku malimpas begantung di urang-urangan matanya.[6] Pas kulimpas maknanya berpapasan, melewati sesuatu. Mata tadung merah, tadung bermakna tutup. Mungkin maksudnya yang tertutup hatinya. Urang-urang adalah terbayang-bayang. Sebaliknya ada pula mantra dari perempuan kepada lelaki agar perempuan itu tidak ditinggalkan seperti berbunyi : Ila putih siraum pandak Bagaimanapun rasamu berasa pendek, Siputih kada bakahandak punyamu tidak berkehendak. Kalau kada nang ampunnya bila bukan Yang Kuasa. Makna ila mungkin kepada. Siraum pandak tidak diketahui maknanya. Berasa maknanya terasa. Selanjutnya dalam hal pengobatan misalnya untuk menolak racun atau mengobati racun seperti
Hai sangiang baruhuk
Ikam jangan handak mamangsa lawan
Kamu jangan hendak membinasakan diaku
Aku tahu asal kejadian ikam
Anak raja baruntik
Sangiang garahak
Sangiang garuhuk
Garahak, garuhuk
Hai sangiang baruhuk Hai sangiang baruhuk
Bajauh ikam Menjauh
Jangan paraki anak Adam
Ikam kusumpahi
Kalimat mantra di atas tidak diketahui mana asalnya. Makna tertentu juga sulit ditemukan dalam bahasa Banjar. Hanya sebagian diketahui. Kata singiang, baruhuk, barahak, garahak tidak diketahui. Mungkin dimaksud nama suatu penyakit.

2. Kekuatan Roh
            Salah satu bagian yang penting dalam tradisi kampung, seperti yang ditemui atas beberapa orang tokoh masyarakat yang dianggap memiliki tuah (biasa dipanggil suhu; semacam guru ilmu) baik di kota Banjarmasin maupun di sepanjang Banua Lima- Banua lawas, bahwa roh manusia yang sudah mati dapat datang ke setiap orang. Apalagi jika roh itu adalah seorang Balian (sebutan semacam pertapa). Mereka dapat membuktikan dengan cara memanggilnya. Keyakinan ini jelas merupakan peninggalan teologi agama Kaharingan yang merupakan agama masyarakat Banjar Lama sebelum kedatangan Islam di daerah ini.
Unsur kepercayaan tersebut sangat berhubungan dengan adanya bukti kesurupan. Baik kesurupan yang sifatnya terkendali yang dilakukan sendiri oleh seorang suhu ataupun kesurupan yang tak terkendali yang datang tiba-tiba pada seseorang. Biasanya yang paling sering kesurupan adalah kaum wanita. Dan tatuha kampung biasanya menyarankan pada keluarga wanita kesurupan tersebut untuk menyediakan sesaji seperti lakatan, bubur habang (merah) dan bubur putih, rokok dan kopi. Pihak keluarga wanita kesurupan akan menyediakan semua sesaji tersebut agar wanita itu sembuh dari kesurupan. Lazimnya setelah sesaji disediakan, si wanita itu berhenti dari kesurupannya. Kadang untuk mengadakan acara pesta perkawinan, pihak keluarga wanita telah menyediakan sesaji di bawah tempat duduk pengantin. Menurut kepercayaan mereka, dengan cara itu maka si wanita tidak akan kesurupan.
Hampir sulit dipahami, kejadian kesurupan biasanya yang paling terbanyak adalah keluarga yang mengaku dari turunan Daha Amuntai (Kerajaan Hindu sebelum Kesultanan Banjar). Meski ditemukan kejadian kesurupan terjadi pada wanita yang bukan keturunan Daha Amuntai.
Kesurupan hingga sekarang masih merupakan penomena yang unik dalam kultur masyarakat Banjar. Tatuha (orang tua) kampunglah biasanya yang dijadikan tempat berobat dari kasurupan (kesurupan) terutama yang dipandang memiliki tuah (kekuatan gaib).
Sebenarnya dalam teologi Banjar asli, alam seperti pepohonan, batu dan gua-gua tertentu memiliki kekuatan. Jika suatu benda telah dimasuki kekuatan roh tertentu maka benda itu akan memiliki tuahnya. Terlebih bila ia telah dipuja. Peninggalan benda-benda tersebut masih dijumpai dalam masyarakat Banjar seperti keris, batu, minyak yang dijadikan sumber kekuatan mereka. Jadi ada dua keyakinan teologi Banjar lama dalam masalah ini yaitu suatu benda yang telah sedia kala ada rohnya (ada penunggunya) dan benda-benda yang semula tidak ada rohnya lalu kemudian dengan acara tertentu benda tersebut kemudian ada rohnya. Baik yang pertama maupun yang kedua dijadikan alat kekuatan dan tuah bagi pemakainya. Bisa di bidang pengobatan, kesaktian maupun untuk keperluan harian seperti berkebun, berburu, menanam padi, dll.

3. Mandi Kekebalan, Penghalat dan Kecintaan
Mandi yakni menyirami seluruh badan dengan air yang telah dimanterakan atau dibacakan oleh seseorang (guru, suhu, seorang yang dipercaya mempunyai kemampuan untuk itu). Umumnya diklasifikasi dalam tiga motivasi yakni
a.       mandi untuk kekebalan dari senjata tajam atau pukulan benda keras.
b.      mandi untuk penghalat (pelindung-perisai) dari gangguan nafsu jahat manusia dan kekuatan halus (parangmaya, teluh).
c.       mandi untuk tujuan kecintaan agar selalu disukai orang, agar termagis pikiran dan penglihatannya tertuju kepadanya untuk mencintainya.
Untuk mandi kekebalan dan mandi penghalat biasanya disertakan medianya ketika mandi berupa alat-alat tertentu yang menjadi lawannya. Untuk kekebalan seperti menginjak atau menduduki pisau. Adapun mandi penghalat hanya menggunakan sarung biasa dan tempat duduk kain kuning. Sebagian tidak menggunakan kain kuning. Sedangkan mandi kecintaan tidak disyaratkan dengan cara demikian. Acara mandi juga biasanya disertakan dengan upacara selamatan kecil-kecilan dengan hidangan wajibnya yang umum adalah berupa telur beberapa butir, nasi ketan (lamang), kopi, di samping menyediakan kain warna tertentu seperti warna kuning, putih, atau hitam berupa kain yang tidak pernah dipakai (baru).
Cara inilah yang sering ditemukan dalam praktek sebagaimana dituturkan beberapa orang yang ditemui dan ikut melakukannya. Sudah dapat dipastikan, acara mandi selalu menggunakan media seperti di atas tidak lepas dari teologi lama kahariangan yang mempercayai adanya kekuatan roh yang baik untuk melindungi dan mempengaruhi kemampuan seseorang.

4. Minyak Buluh Malarindu
            Dalam masyarakat Banjar dikenal istilah minyak buluh malarindu (mahabbah). Buluh berarti kekuatan. Malarindu maksudnya pokok kecintaan dan keinginan. Minyak ini sangat unik dan sulit didapatkan. Namun dipercaya sangat mujarab bila disentuhkan pada wanita yang dikehendaki maka wanita itu akan tergila-gila pada lelaki itu. Berdasarkan  penuturan mereka yang pernah melihat, minyak tersebut berada dalam botol ukuran yang sangat kecil. Ia akan bertambah kadar jumlahnya jika dibuat acara khusus pujaan terhadapnya. Minimal dengan cara merabunnya (dibakarkan kemenyan; dupa). Di daerah pedalaman Kalimantan Selatan misih ditemukan minyak tersebut.

5. Menelan Benda Minyak Magis
Dalam praktek masyarakat suku Banjar minyak magis hingga sekarang daerah seperti Rantau, Kandangan, Laksado, Barabai hingga Amuntai adalah daerah sentra minyak magis untuk berbagai keperluan. Benda minyak magis yang ditemukan dalam masyarakat Banjar selain untuk kecintaan adalah minyak yang diuntal (ditelan lewat mulut). Biasanya bercampur dengan kapas berbalut, rasanya amis, bau menyengat. Minyak tersebut dianggap siapa yang menelannya akan menjadi berlinuh (sakti), kebal senjata, tahan di pukul atau lainnya. Maka dengan cara menelan benda-benda tertentu (minyak magis) yang bermacam bentuknya seperti kapas yang berminyak, botol yang ukurannya sangat kecil, tembakau tertentu berbentuk seperti bulu, kulit dalam ukuran kecil-kepompong, berbentuk cairan yang agak lekat, dlsb yang sudah dimantrai atau ada acara khusus padanya.
Benda-benda tersebut di dapat dari alam ; tetumbuhan, tunas tanaman atau akar, yang kemudian dicampur dengan benda-benda lain hingga dilampahkan atau dimanterakan dengan acara Kaharingan atau adat pedalaman Kalimantan; Banjar. Sebagian benda tersebut terlihat seperti hidup, misalnya kapas berminyak yang disimpan dalam botol tidak mau kering walaupun bendanya sedikit demi sedikit selalu diambil. Pemeliharaannya dengan cara tertentu seperti perabunan (diasapi dengan alat perapen). Sedangkan benda tersebut dimasyarakat kita lebih dikenal dengan sebutan minyak yang ditelan (untalan : bhs banjar). Dalam masyarakat kita, minyak-minyak tersebut mempunyai nama dan khasiat masing-masing seperti minyak gajah, gangsa, bintang, tempekong, kuyang, cancang seluang, hantu, bulu mariaban, timah, pandawa, raksa (baca:rasa), gerangsang, semar, rangka hirang,dlsb. Ada yang ditelan dan ada yang disapuhkan pada tubuh.
Penulis mencatat beberapa nama dari minyak itu bersumber dari penuturan seorang suhu di Kalimantan Selatan, antara lain sebagai berikut:
a.       Minyak (untalan) Gajah adalah untuk kekebalan terhadap senjata keras dan besar (berat) dan menggetarkan musuh.
b.      Minyak (untalan) Cancang Saluang, adalah kekebalan yang tahan dari bacokan senjata meski berulang-ulang dan bersama-sama.
c.       Minyak (untalan) Rangka Hirang untuk kebal senjata apapun.
d.      Minyak (untalan) Hantu adalah minyak untuk kekebalan dan keberanian serta mempertakuti lawan.
e.       Minyak (untalan) Tempekong adalah untuk kegesitan dan kekebalan.
f.       Minyak (untalan) Gangsa adalah untuk kekebalan dan keberanian, kepahlawanan.
g.      Minyak (untalan) Semar agar kuat dan kebal senjata tajam.
h.      Minyak (untalan) Gransang adalah khusus untuk keberanian.
i.        Minyak (untalan) Timah (warnanya seperti perak) agar kebal dari peluru
j.        Minyak (untalan) Rasa adalah untuk kekebalan
k.      Minyak (untalan) Penyambung Nyawa agar tubuh yang luka akibat bacokan tersambung kembali, akibat kecelakaan, operasi akan menyembuhkan sendiri dengan cepat.
l.        Minyak (untalan) Bintang adalah penyangga kematian. Seseorang yang telah ditusuk, di bacok senjata hingga dianggap mati atau tak mungkin hidup akan hidup kembali pada malam hari bila telah ada bintang di langit.
m.    Minyak (untalan) Pandawa agar pukulan keras dan kebal senjata tajam.
n.      Minyak (untalan) Wayang, agar cepat mempengaruhi orang dan jika berkelahi akan menggentarkan musuh.
o.      Minyak (untalan) tembakau yang telah dimantrai untuk kekebalan.

6. Kulit Magis
            Ada dua jenis yang penulis teliti di lapangan yaitu kulit kijang putih dan kulit kepompong. Keduanya untuk kekebalan. Pada kulit kijang putih adalah berasal dari kijang (rusa) berwarna putih. Ia kebal senjata sehingga binatang ini tak dapat ditembus peluru maupun oleh bacokan pedang. Cara mematikannya hanya dengan cara membuat jebakan di dasar tanah hingga ia mati sendiri karena tak beroleh makanan. Dari kulitnya diambil dengan cara tertentu hanya mampu di potong. Kemudian kulitnya itulah dibagi dalam beberapa potongan kecil (seukuran 1 cm persegi) dijadikan zimat untuk kekebalan dari peluru dan senjata tajam. Benda ini sekarang juga langka karena tak ada lagi barang yang bersifat baru. Hanya peninggalan orang dulu, pahuluan. Harganya sangat mahal hingga milyaran rupiah dan jadi koleksi orang tertentu. Biasanya uji cobanya diletakkan pada ayam kemudian ayam itu ditembak dengan senapan atau pistol asli. Bila ayam itu tidak mati atau tidak mau terkena tubuhnya oleh peluru meskipun ditembak dengan cara yang sangat dekat maka benda itu dianggap asli oleh orang yang mencarinya.
            Jenis kedua adalah kepompong kupu-kupu yang telah dimantrai dan cara mengambil benda tersebut sesuai prosedurnya seperti harus mendekati benda kepompong tersebut dengan cara membelakangi sedikit demi sedikit. Benda ini akan di telah (diuntal). Maka yang bersangkutan akan kebal.

7. Pasak Tubuh
Ada dua jenis pasak (semacam dilekatkan pada bawah kulit), hampir sama dengan istilah susuk yaitu untuk jenis kekebalan dan untuk jenis kecintaan. Pada jenis kekebalan biasanya dua macam, sbb :
  1. Pasak Bulu Mariaban. Menurut penuturan ahlinya, bulu Mariaban diambil dari Hantu (Jin) yang bernama Mariaban. Bulu ini sangat sulit di dapat karena harus melewati pertapaan khusus untuknya dengan berbagai sesaji. Hantu itu akan memberikan bulunya kepada orang yang melakukannya. Bila orang tersebut memasukkan bulu itu ke dalam perutnya maka jadilah sakti hanya selamanya tidak bisa lagi di buang di belakang hari. Maka biasanya orang hanya meletakkannya pada kulit tubuhnya dengan istilah pasak bulu Mariaban. Kesaktian yang diperoleh adalah kebal segala senjata, musuh akan takut dan takluk. Lebih kuat dari kebanyakan minyak untalan lainnya. Hanya benda ini sangat sulit di dapat.
  2. Pasak Wasi Kuning. Menurut penuturan ahlinya, bendanya sangat kecil seperti separoh beras biasa. Warnanya agak kekuningan. Di dapat dari sarang Tabuan (semacam wanyi besar yang bila menggigit manusia memungkinkan kematian) yang bersarang di tanah. Tidak semua sarang Tabuan yang ditemukan ada benda tersebut. Jadi diperlukan ahlinya untuk mendapatkannya. Sekarang ini sulit di dapat dan masuk dalam katagori benda yang diperebutkan oleh kalangan tertentu. Bahkan jika asli harganya sangat mahal dalam jumlah milyaran rupiah. Biasanya uji cobanya diletakkan pada ayam kemudian ayam itu ditembak dengan senapan atau pistol asli. Bila ayam itu tidak mati atau tidak mau terkena tubuhnya oleh peluru meskipun ditembak dengan cara yang sangat dekat maka benda itu dianggap asli oleh orang yang mencarinya.
Jenis kedua adalah pasak untuk kecintaan. Ini sangat mirip dengan apa yang disebut dengan tusuk. penggunaan tusuk tertentu (memasukkan benda yang sangat kecil ke bagian badan-kulit atau di wajah) ataupun hanya dengan cara menyapuhkannya, cairan tersebut masuk dengan sendirinya ke dalam tubuh. Bagi yang memakainya dianggap akan melahirkan pancaran kecantikan bagi setiap orang yang melihatnya. Biasa digunakan oleh wanita.

8. Mitologi Kekuatan Perhitungan
Sulit dipercaya jika suatu nasib manusia dapat diperhitungkan dengan angka-angka. Nama hari dianggap dan dipercayai memiliki keadaan yang sangat berhubungan dengan nasib seseorang. Untuk itu, bila seseorang ingin beruntung, ia harus menghitung secara hitungan ilmu ini, apakah hari itu dan pada jam itu menguntungkannya ataukah justru bernasib buruk baginya.
Dari perhitungan tersebut dilakukan berbagai keperluan misalnya memberi nama anak, kapan waktu mulai berkebun, pabila waktu yang tepat mulai berusaha atau berdagang, kapan akan pindah tempat. menghitung nama untuk perjodohan, perkawinan, hari waktu tanggal perkawinan. Di bawah ini ada beberapa mitologi kekuatan perhitungan yang ada dalam masyarakat Banjar yang hingga kini oleh sebagian masyarakat Banjar masih diyakini, sbb :
a. Aksara nama
Setiap seseorang diyakini memiliki hari sial dan hari keberuntungan sesuai petunjuk dalam tulisan kotak-kotak angka. Dalam prakteknya, persoalan perjodohan antara nama laki-laki dengan nama perempuan sering dihitung. Bahkan sering terjadi seorang laki-laki yang cocok dan ingin kawin dengan seorang perempuan yang dipilihnya hingga akan melangsungkan perkawinannya dicegah oleh pihak salah satu keluarga, hanya sebab nama-nama mereka telah dihitung ternyata tidak saling bersesuian. Artinya kehidupan keluarga mereka nantinya dipercayai tidak akan menemukan kebahagiaan. Suatu nama dihitung berdasarkan angka-angka dalam rumus kotak yang di dalamnya ada angka.
Penulis tak dapat memahami mengapa angka itu ada dalam setiap nama. Sebut saja misalnya nama Anang berjumlah 15 lalu nama Afip adalah 17. nama wanita seperti Bayah adalah 5. kepercayaan ini nantinya terus berkembang hingga pengaruh Islam datang. Terbukti mulai menggunakan angka arab. Biasanya suatu nama dapat berarti menguntungkan atau sebaliknya. Misalnya nama seorang Zainal = Zai, Nun, Alif, dan Lam, dihitung huruf Zai dalam angka … huruf Nun … jumlah angkanya dan sebagainya.

b. Mitologi Angka Mekanik dan Plat
Suatu kepercayaan terhadap nomor dan plat sepeda motor atau mobil yang di dalamnya diberi tangguh, dihitung di mana pada angka-angka tertentu dipercaya membawa kesialan dan angka-angka yang lain membawa keberuntungan. Biasanya untuk mengetahui baik atau tidaknya (berarti membawa keberuntungan kepada si pemakai atau sebaliknya) diupayakan untuk menemui seseorang yang ahli memprediksinya (menangguhkan). Tidak diketahui dari mana ia dapat menentukannya. Tetapi dengan melihat angka pada plat suatu kendaraan ia dapat mengatakan apakah sial atau membawa keberuntungan. Terlebih sangat diminati jika untuk keperluan usaha.

c.       Mitologi Hari dan Bulan
Hitungan Bajau (mungkin pengaruh Sulawesi) namun dalam bahasa Banjar asli, bahitungan. Caranya mirip dengan hitungan Bajau sehingga popular disebut dengan hitungan Bajau. Yaitu untuk menentukan waktu, hari dan jam sial dan beruntungnya seseorang. Dengan hanya membaca 7 hari dalam seminggu tertera di dalamnya sebutan sial dan beruntung.
Masukya Islam dalam masyarakat Banjar telah berubah menjadi angka arab. Hari-hari tertentu dan bulan tertentu dianggap mempunyai nilai keramat. Hari Senin, Kamis dan Jum’at dianggap hari yang sangat keramat. Bulan Safar dianggap bulan yang sering terjadi tindak kekerasan, karenanya pada bulan itu tidak baik memulai usaha, bulan Rajab dianggap sangat baik untuk melangsungkan perkawinan. Anehnya dalam masyarakat telah membeda-bedakannya bahkan pada hari tertentu dianggap membawa keberuntungan seseorang dan pada hari tertentu pula akan merugikan seseorang percaya seperti ini termasuk telah berbuat syirik karena meletakkan kekuasaan kepada waktu dan hari.
.
9.      Mitologi Pertukangan
Termasuk dalam kategori ini yang hingga sekarang melekat dalam sebagian masyarakat Banjar adalah mempercayai tentang adanya alat-alat pertukangan mengandung kekuatan magis seperti bagian ujung kampak (patahannya) juga pahat bila dibiarkan berada dalam rumah akan mengundang tamu makhluk ghaib datang dan akan mengganggu rumah. Termasuk pula kepercayaan bahwa rumah yang secara keseluruhan berbahan ulin, rumah tersebut dianggap selalu mendatangkan (menjadi penyebab) pertengkaran bagi ahli rumah tersebut. Tegasnya apapun juga yang berkaitan dengan masalah ini seperti memasang penyangga rumah, dll harus dengan cara tertentu yang tidak ada hubungannya dengan kesesuaian rasio, termasuk letak pintu dan jendela yang kesemuanya merupakan kepercayaan bahari orang Banjar Pahuluan.

10. Mitologi Menempati Rumah Baru dan Membeli Barang Baru
Biasanya orang dalam menempati rumah baru diadakan terlebih dahulu dengan upacara menyediakan makanan 7 macam atau 41 macam, atau memasang tiang pada subuh hari, diletakkan pada ujung tiang lampu penerangan seperti lilin dan lampu berminyak serta memulainya menempati pada hari dan bulan tertentu.
Pengaruh datangnya Islam di tempat ini menjadikan acara tersebut berubah menjadi upacara selamatan bangun rumah ataupun menempati rumah. Namun sebagian masyarakat Banjar masih mencampurkan selamatan tersebut dengan menyediakan makanan 7 macam atau 41 macam. Mereka juga masih memasang tiang rumah harus pada subuh hari, diletakkan pada ujung tiang lampu penerangan seperti lilin dan lampu berminyak serta memulainya menempati pada hari dan bulan tertentu.

11. Mitologi Kekuatan Tapung Tawar
Dalam masyarakat juga umumnya terbiasa, apabila mereka membeli barang baru, seperti mobil atau sepeda motor, alat-alat berat lainnya agar tidak membawa celaka dan membawa keberuntungan biasanya diadakan upacara “tapung tawar” dan penyiraman air kembang. Penulis tak menemukan apa maksud dari tapung. Namun pengertian tawar adalah sesuatu penyakit atau musibah menjadi sia-sia, tak berfaidah.
Tapung Tawar adalah tradisi lama dalam masyarakat Banjar. Tapung tawar adalah melakukan penyiraman dengan daun yang sudah digulung yang dikibaskan pada suatu benda, manusia atau yang dituju supaya terhindar musibah. Yang dikibaskan pada daun itu adalah air bercampur rempah tertentu. Pada benda seperti kendaraan baru atau rumah biasanya diakhir dengan meletakkan kembang tertentu yang hingga sekarang banyak kembang tersebut di jual di pasar.

12. Mitologi Kekuatan pada Tumbuhan dan Hewan
Tunas pohon kelapa biasanya ditanami oleh ahli rumah yang sedang melangsungkan pernikahan anaknya dan pengantin disuruh memelihara pohon tersebut yang apabila dapat tumbuh subur menandakan kehidupan mereka akan bahagia dan sebaliknya. Biasanya juga disyaratkan bagi pelamar untuk membawanya guna ditanam di tempat calon mempelai perempuan.
Selain itu tanaman tertentu seperti pohon beringin, jingah, dan gayam dianggap pohon yang bisa mendatangkan makhluk ghaib karena disekitar itulah orang sering melakukan permintaan-permintaan. Seperti pula anggapan bahwa hewan tertentu dapat membawa keberuntungan dan dapat menjadi penyebab bencana. Misalnya menabrak kucing, alamat akan terjadi petaka besar, membunuh ular di malam hari akan terjadi kesialan. Memelihara binatang seperti kucing akan memudahkan ahli rumah memperoleh rezeki.

13. Mitologi Kekuatan pada Mimpi Seseorang
            Mimpi sering disebut sebagai alamat pada seseorang. Terlebih bila diperoleh melewati suatu proses sakral tertentu. Bagi masyarakat Banjar Pahuluan, para Balian banyak mengandalkan mimpi sebagai petunjuk untuk keperluan mereka maupun untuk tujuan perolehan kekuatan. Sementara di masyarakat Banjar, mimpi juga sering untuk meramalkan dan mengisyaratkan keadaan seseorang. Seperti bermimpi bertemu ular berarti dekatnya perjodohan, bertemu buaya berarti dekatnya malapetaka, bermimpi sakit gigi berarti kelurga dekat yang sedang sakit, bermimpi bayi menangis berarti ada orang yang ingin berbuat jahat.

14. Mitologi Mandi 7 Bulan Masa Hamil
Acara ini biasanya diiringi dengan menginjak telur oleh ibu hamil sedangkan suami berjalan melangkah dari telur. Acara ini diiringi dengan menyediakan beberapa macam kue wajib-7 macam dan sebagiannya 41 macam kue seperti kue cincin, kue lekatan (ketan), kue wajig, kue apam putih dan kuning, kue kelelapon, kue kembang goyang. Semua acara ini dimaksudkan untuk keselamatan si jabang bayi dalam kandungan.
Datangnya pengaruh Islam pada acara ini ditandai dengan pembacaan doa-doa yang dikenal dengan doa keselamatan, doa halarat.

15. Mitologi Tempat Keramat
      Pada masyarakat Banjar lama, tempat keramat adalah pada gua khusus dan pohon-pohon besar yang umurnya ratusan tahun serta kubur orang tatuha kampung yang dianggap punya kekuatan. Kepercayaan orang bahari (orang dulu) bahwa seorang yang sakti dapat membantu keperluan orang yang berhajat di tempat itu. Tempat seperti ini kadang dijadikan lampah bagi mereka yang ingin mewarisi suatu ilmu pada orang saktu tersebut. Dalam kepercayaan yang masih tertinggal hingga sekarang pada daerah Pahuluan masih ditemukan budaya nyalin (salin) ilmu melewati tubuh mayit orang yang telah lama meninggal.

16. Mitologi Benda-Benda Keramat
Benda lama yang bertuah seperti batu, keris, mandau, dipercaya mempunyai kekuatan yang dapat membentengi diri secara ghaib. Uniknya sekarang benda-benda ini diburu hingga kepedalaman kalimantan. Batu jilatan dipercaya membawa keberuntungan bagi rezki seseorang. Keris yang sudah dilampah (dengan upacara khusus) sekian waktu akan dapat melukai tubuh orang yang kebal senjata. Dipercaya pula untuk kharismatik. Demikian halnya dengan Mandau, dipercaya sebagai ganggaman (pegangan) orang-orang dulu untuk melindungi diri dari bermacam bahaya. Baik yang terlihat maupun yang tersembunyi (halus;banjar).

17. Mitologi Penyakit
Hingga sekarang, sebagian masyarakat Banjar masih mempercayai bahwa anak yang selalu sering sakit-sakitan haruslah digantikan namanya dengan nama lain. Biasanya orang akan menanyakan hitungan nama anaknya kepada seorang ahli agar anaknya tidak sakit lagi dengan menggantikan namanya yang lain. Sebagian besar dianggap penyakit datang karena adanya kekuatan alam bawah yang bisa melewati angin, waktu tertentu. Sebagian mereka meyakini adanya orang yang membuang atau melepas wisa (penyakit) dari suatu minyak tertentu. Menurut kepercayaan mereka, hal itu mengakibatkan timbulnya penyakit aneh pada diri seseorang yang sulit disembuhkan.

C.    Pengaruh Islam Terhadap Mitologi Kekuatan Masyarakat Banjar Lama
Masuknya Islam dalam masyrakat Banjar terutama sejak kesultanan Banjar telah berdiri. Islam masuk di Kal-Sel terjadi pada suku Banjar di mulai dengan masuk Islamnya Raja Banjar Pangeran Samudera bergelar Sultan Suriansyah (24 September 1526/6 Zulhijjah 932 H). Selanjutnya keturunan kerajaan / kesultanan Banjar dan masyarakat Banjar hingga sekarang beragama Islam. Agama Islam telah lama menjadi ciri masyarakat Banjar dan Islam menjadi agama mayoritas di mana 98 % pendudukanya beragama Islam (Alfani Daud, 1997, h. 5).
Masuk dan berkembangnya Islam dalam masyarakat Banjar mempengaruhi mitologi masyarakat Banjar. Dengan kata lain, terjadi dekonstruksi Islam atas Teologi Kultur Masyarakat Banjar lama. Meskipun pergumulan kepercayaan antara Islam dan adat lokal hingga sekarang masih saling mempengaruhi. Ada tiga aktivitas yang terjadi dalam masyarakat ini yang berkait dengan masalah kepercayaan dan mitologi, sbb :
1.      aktivitas pengaruh Islam yang murni
2.      aktivitas pengaruh Islam santri
3.      aktivitas pengaruh mitologi asli masyarakat Banjar.
Aktivitas pengaruh Islam murni terhadap masyarakat Banjar mengakibatkan bagi masyarakat yang percaya, tunduk patuh pada Islam dari kalangan orang Banjar akan meninggalkan semua kepercayaan masyarakat Banjar Lama sebagai nenek moyang mereka. Kelompok masyarakat ini telah ada dan sering komplik pemikiran dengan masyarakat adat atau orang-orang Banjar yang masih meyakini kepercayaan lokal nenek moyang mereka sekalipun mereka sudah beragama Islam.
Dalam konteks Islam murni sebagai sebuah kepercayaan baru dalam masyarakat Banjar bahwa segala mitologi kekuatan yang ada pada peninggalan nenek moyang Banjar adalah syirik dan bertentangan dengan agama. Oleh karenanya mereka berpendapat semua tradisi kepercayaan tersebut harus dihilangkan dalam masyarakat Banjar.
Bagian kedua adalah aktivitas Islam Santri yang dipengaruhi oleh budaya Timur Tengah yang berwajah Islam mempengaruhi sisitem kepercayaan masyarakat Banjar. Upaya ini sebenarnya merupakan dekonstruksi Islam atas Teologi Kultur Masyarakat Banjar lama, antara lain, sbb :
1.      Mengganti mantra lisan atau merubahnya menjadi mantra lisan dengan menyebut nama Allah swt sebagai Tuhan yang Maha Kuasa. misalnya Bismillahirrahmaanir rahiim, Allah Yg Berdiri, Muhammad Yg Berduduk, Tunduk Kasih Sayang…(sebut nama orang tadi) Berkat Do’a Ku Laa Ilahailallah Muhammadurrasulullah. kemudian kedua telapak tangan diusapkan ke wajah. Atau seperti mantra untuk mempermudah persalinan Bismillahirrahmanirrahim/Nun kalamun walayar turun/Insya Allah inya ilang aritan/Inya turun/brakat La Ilaha Ilallah Muhammadurrasulullah.
2.      Menggunakan ruqyah keagamaan dengan bacaan lafal Al Qur`an dan doa-doa
3.      Acara bamandi-mandi, upacara adat dimasukkan lafal-lafal doa pengganti mantra.
4.      Acara Tapung Tawar dan Kembang tetap dijaga tetapi lapal bacaan telah berganti dari mantra dengan doa-doa keagamaan.
5.      Minyak (untalan) diganti dengan kurma arab yang telah dirajah untuk kekebalan dari senjata dan keselamatan. Ada pula menggantinya dengan minuman air putih yang telah dibacakan. Dan ditemukan pula dalam masyarakat muslim Banjar dengan menggantinya merajah tubuh (menuliskan tinta ja`far ke tubuh) agar kebal dari senjata dan untuk keselamatan.
6.      Pengadaan Zimat dengan tulisan arab, lafal al Qur`an maupun doa bergantung keperluan.
7.      Menawar racun, wisa dari mantra diganti dengan air putih yang telah didoakan. Sesuai keperluan seperti menghilangkan racun, wisa, sifat nakal pada anak, akhlak tercela, kebodohan, gelisah, sakit, was-was, untuk merukunkan rumah tangga, dll.
8.      Tempat kramat yang dulu adalah gua dan kubur balian diganti dengan makam kubur para wali dan mesjid bersejarah.
9.      Menghitung nama keberuntungan dan kesialan dengan angka arab, demikian pula menghitung nama seseorang. Misalnya huruf mim diangkakan 9 dst.
10.  Pemanggilan roh sebagai dasar kekuatan dan kesaktian diganti dengan acara tawasulan pada syekh- wali-wali yang telah dianggap keramat.
11.  Pemimpim kekuatan spritual masyarakat dulu adalah tatuha kampung tergantikan dengan keulamaan sebagai tempat pengaduan dan perlindungan dalam berbagai masalah.

D.    Penutup
Sudah 6 (enam) abad Islam dalam masyarakat Banjar yang pada kenyataannya meskipun teologi Islam mempengaruhi hingga ke dasar keyakinan masyarakat ini, namun masih ditemukan adanya percampuran teologi atau kepercayaan. Tidak menutup kemungkinan bahwa gerakan Islam Murni tidak begitu mendapat simpati dari masyarakat ketimbang gerakan Islam budaya yang berwajah Timur Tengah. Gerakan ini sangat dominan dalam masyarakat Banjar sekarang. Meskipun dalam bagian tertentu mereka gagal untuk menciptakan Islam dalam arti murni.
Meskipun demikan, beberapa catatan yang dapat diketengahkan atas praktek keagamaan dalam mempengaruhi mitologi kekuatan masyarakat Banjar lama sangatlah berhasil. Bahkan bisa dikatakan telah menjadi mitologi kekuatan baru yangbercorak atau berwarna Islam. Antara lain, sbb :
1. Meminum Air Yang Telah Dibacakan
Aktivitas menggunakan air yang telah dibacakan seorang Tuan Guru atau orang alim sangatlah diyakini oleh masyarakat Banjar hingga sekarang. Salah satu dasar yang mereka yakini dalam Islam adalah apa yang mereka peroleh dari Al Qur`an maupun hadis. Misalnya sbb :
 Abu Said Al Khudri mengisahkan bahwa telah berjalan segolongan sahabat dalam suatu safar, mereka singgah di sebuah perkampungan dan mereka diminta dijamu. Penduduk kampung tersebut menolak (menjauhi) karena ternyata kepala desa tersebut sedang sakit keras akibat diserang binatang berbisa. Bermacam obat telah mereka usahakan tetapi tidak ada yang memberi hasil. Salah seorang dari mereka menghendaki agar di antara mereka mendatangi para tamu / jamaah para sahabat. Merekapun mendatangi para sahabat dan berkata, “karena kami ditolak dijamui, maka kami tidak akan mengusahakan menolong kecuali diupah”, mereka berjanji akan memberi sejumlah domba dan kambing. Maka pergilah bersama mereka seorang sahabat untuk mengobatinya dengan bacaan do’a-do’a yang makbul. Maka dengan izin Allah SWT kepala kampung tersebut tidak berapa lama sembuh dari sakitnya, upah telah mereka terima. Sahabat yang lain meminta agar upah tersebut dibagi-bagi di antara mereka. Sahabat yang menerima upah ini menganjurkan untuk pergi menemui Nabi Muhammad untuk menceritakan (apakah halal atau tidak). Merekapun pergi menemui Nabi Muhammad saw. Dan Nabi berkata, “Telah benar perbuatanmu, bagilah sekarang dan berilah kepadaku sedikit darinya, hingga Nabi Muhammad saw terlihat tersenyum”.(HR. Bukhari Muslim)[7]
Abu Ubaid dari Talhah Ibn Musrif mengatakan bahwa membaca Al Qur’an ketika sakit dapat menyembuhkan. Ibn Thaimiah mengatakan bahwa apabila sebagian lafal mempunyai beberapa khasiat maka Al Fatihah lah surah yang tiada bandingnya. Al Qurtubi berkata, “dibolehkan Ruqiyah / membacakan dengan kalamullah (Al Qur’an) dan lafal atas nama-nama Tuhan. Jika dengan do’a-do’a yang diterima dari Nabi Muhammad saw adalah lebih disukai lebih baik”. Kata Al Rabi, “aku menanyai Safi’i tentang hal ruqiyah, maka kata beliau boleh dengan kalamullah dan zikir-zikir yang diajarkan Nabi.

2. Rajah
Rajah bisa disebut sebagai tradisi baru yang masuk karena Islam. Dengan rajah ini, mitologi kekuatan Banjar Lama dapat digantikan. Segala bentuk untalan minyak (yang ditelan) maupun tidak ditelan, segala pasak (susuk) maupun lainnya yang umumnya untuk kekebalan dari senjata tajam, peluru, maupun kekuatan, perisai dari teluh (parangmaya) dapat mereka gantikan dengan rajah. Mereka memahami bahwa istilah rajah berasal dari kata ‘rojaha’ yang artinya menguatkan atau mengokohkan atau membentengi. Biasanya dituliskan di tubuh atau di suatu benda. Wujud tulisan beragam macam, dari tulisan simbol bintang, huruf-huruf hingga ayatul Qur’an, Asmaul Husna, dll. Ibaratnya seperti zimat yang dikhususkan langsung pada tubuh.
Imam Qurtuby mengatakan bahwa dibolehkan ruqyah / rajah dengan kalamullah dan Asmaul Husna, tetapi jika bertuliskan do’a-do’a yang diterima dari Nabi saw maka lebih disukai.(Lih. Al Itqon h.2-166).
Bagi aktivitas Islam murni, rajah ditentang karena melahirkan zimat baru yang dulu berisi mantra sekarang berubah menjadi lafal doa, ayatul Qur`an dan asmaul husna.

3. Zimat
Jika dulu zimat dalam mitologi kekuatan Banjar lama adalah suatu benda atau tumbuhan yang dianggap ampuh, dalam pengaruh aktivitas Islam santri digantikan dengan lafal keagamaan sebagaimana ruqyah.

4.      Mandi Rajah
Jika dulu dalam mitologi kekuatan Banjar lama, mandi dibacakan mantra, maka mandi bagi aktivitas Islam santri adalah mandi rajah.

Empat komponen tersebut aktivitas santri Islam tersebut hampir menghilangkan mitologi kekuatan peninggalan masyarakat Banjar lama. Al hasil sebagai dekonstruksi Islam atas Teologi Kultur Masyarakat Banjar lama. Meskipun, entah bagaimana ditemukan masih adanya kepercayaan lama dalam masyarakat Banjar. Namun sifatnya hanya berkembang di kalangan mereka yang jauh dari pengetahuan keagamaan Islam.
Terlepas dari benar atas salah dalam konteks teologi Islam, maka pengaruh Islam sudah sangat mendasar dalam teologi. Sebab suatu mitologi kekuatan pada suatu masyarakat sangat sulit tergantikan kecuali dengan mitologi baru yang lebih kuat dan dapat dibuktikan kemampuannya. Dalam konteks ini, aktivitas santri Islam sudah mampu menggantikannya dengan cara tersendiri sehingga menjadi tradisi baru bagi masyarakat Banjar Islam di wilayah ini.


Referensi :
1.      Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, Rajawali Pers. Jakarta, 1997, h. 3
2.      Tim Haeda, Islam Banjar; Tentang Akar Kultural dan Revitalisasi Citra Masyarakat Religius, Banjarmain, Lekstur, 2009, h. 76.
3.      Idwar Saleh, Sekilas Mengenai Daerah Banjar dan Kebudayaan Sungainya Sampai Akhir Abad ke-19, 1986 dalam Wikipedia..mht
4.      Anak Sultan, Mantra (Magic Word); Ilmu Tradisi Suku Banjar, http:// kerajaanbanjar.wordpress.com/ 2007/03/10/mantra-magic-word-ilmu-tradisi-suku-banjar/
5.      Info diperoleh dari orang yang bergelar kayi catur di daerah pinggiran banjar kuala.
6.      Kiriman Sulthan Shahreeza Al-Banjary,31 maret 2010  dalam http:// kerajaanbanjar. wordpress.com/2007/03/10/mantra-magic-word-ilmu-tradisi-suku-banjar/
7.       Imam Nawawi dalam Al Azkar 61


Bacaan
Daud, Alfani., Islam dan Masyarakat Banjar, Rajawali Pers. Jakarta, 1997.
Haris, Abdul., dkk, Pergeseran Perilaku Politik Kultural Nahdlatul Ulama (NU) di Era Multi Partai Pasca Orde Baru, Studi Kasus NU Jember, Jawa Timur,  STAIN Jember Jawa Timur
Ida, Lauda., NU Muda; Kaum Progresif Dan Sekularisme Baru, Erlangga, Jakarta, 2004
Kuntowijoyo, Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi, Mizan, Jakarta, 1993
Mudzhar, Atho'., Gerakan Islam Liberal Di Indonesia, artikel Balitbang Depag.RI,  Rabu, 12 Maret 2008
Madjid, Nurcholish. Islam, Kemoderenan dan Keindonesiaan, Mizan, Jakarta, Cet.VI. 1994
----------------------, Islam Kerakyatan dan Keindonesiaan, Mizan, Jakarta, 1993
----------------------, Islam Doktrin dan Peradaban, Paramadina, Jakarta, 1992
Nawawi, al Imam, Al Azkar, Dar al Fikri, Cairo (t.t).
Rais, Amin., Ed, Islam di Indonesia, Rajawali Pers, Jakarta, 1986
Rahardjo, M. Dawan., Intelektual Intelegensia dan Prilaku Politik Bangsa, Mizan, Jakarta, 1993
Saleh, Idwar, Sekilas Mengenai Daerah Banjar dan Kebudayaan Sungainya Sampai Akhir Abad ke-19, 1986
Tim Haeda, Islam Banjar; Tentang Akar Kultural dan Revitalisasi Citra Masyarakat Religius, Banjarmain, Lekstur, 2009




* Dosen Fakultas Syariah IAIN Antasari Banjarmasin
[1] Alfani Daud, Islam dan Masyarakat Banjar, Rajawali Pers. Jakarta, 1997, h. 3
[2] Tim Haeda, Islam Banjar; Tentang Akar Kultural dan Revitalisasi Citra Masyarakat Religius, Banjarmain, Lekstur, 2009, h. 76.
[3] Idwar Saleh, Sekilas Mengenai Daerah Banjar dan Kebudayaan Sungainya Sampai Akhir Abad ke-19, 1986 dalam Wikipedia..mht
[4] Anak Sultan, Mantra (Magic Word); Ilmu Tradisi Suku Banjar, http://kerajaanbanjar.wordpress.com/2007/03/10/mantra-magic-word-ilmu-tradisi-suku-banjar/
[5] Info diperoleh dari orang yang bergelar kayi catur di daerah pinggiran banjar kuala.

[6]Kiriman Sulthan Shahreeza Al-Banjary,31 maret 2010  dalam http:// kerajaanbanjar. wordpress.com/2007/03/10/mantra-magic-word-ilmu-tradisi-suku-banjar/

 

[7] Vide, Lih. Imam Nawawi dalam Al Azkar 61

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar